Konsultan Asing: Pasar Hotel Indonesia Sangat Menjanjikan!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Pasar perhotelan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan sangat menjanjikan. Hal ini ditandai kinerja pasokan, permintaan, dan pertumbuhan harga dalam rentang waktu 2009-2013.

Demikian hasil riset HVS dalam laporannya bertajuk Indonesia Hotel Watch 2014. HVS sendiri merupakan konsultan global yang menyediakan jasa riset dan data perhotelan di seluruh seluruh dunia.

HVS juga menyebut pertumbuhan akan terjadi di pasar-pasar spesifik seperti Jakarta, Surabaya, bandung, Bali, Bintan, Bogor, Lombok, Medan, Yogyakarta, dan Makassar.

Pertumbuhan pasar perhotelan tersebut, kata HVS, tak lepas dari perekonomian Indonesia yang telah menjelma menjadi kekuatan baru di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

“Pengaruh pertumbuhan positif ekonomi ini terhadap sektor industri pariwisata sangat signifikan. Kontribusi langsungnya terlihat dari volume perjalanan dan pariwisata terhadap PDB sebesar 3,1 persen pada tahun 2013 lalu atau melonjak 8,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Dan ini merupakan pertumbuhan terbesar yang mampu dicapai oleh negara Group of 20 sepanjang 2013,” tulis HVS.

Pada tahun yang sama juga, lanjut HVS, Indonesia mendapat 8,8 juta wisatawan internasional, yang diterjemahkan sebagai pertumbuhan sebesar 9 persen atau lebih dari dari 2.012 kedatangan.

Dengan demikian, tak mengherankan, bila HVS memproyeksikan negara ini bakal meraup lebih dari 9,3 juta atau 9,5 juta turis asing tahun ini. Atau melonjak 6 persen hingga 8 persen dengan lebih dari 2.013 kedatangan.

Pasokan melimpah

Pertumbuhan jumlah wisatawan internasional menstimulasi pertambahan pasokan kamar hotel. Dalam kurun waktu 2009-2013, Indonesia telah menambah 538 hotel baru dengan 52.716 kamar.

Pertambahan hotel baru tersebut, urai HVS, tak lepas dari upaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mengarah pada realisasi diversifikasi geografis dari investasi pariwisata dengan lebih baik. Hal ini memungkinkan tujuan wisata yang kurang populer atau belum dimanfaatkan secara maksimal macam Lombok, Bintan, Flores, Pulau Komodo, Yogyakarta dan Manado untuk tumbuh melalui peningkatan aksesibilitas dan infrastruktur pariwisata yang memadai.

Kami melihat pertumbuhan terjadi di pasar-pasar hotel yang lebih kecil, seperti Yogyakarta. Di kota ini jumlah pengunjung terus meningkat, didukung oleh ekonomi yang kuat. Ini  membuktikan bahwa kota Yogyakarta menjadi sangat menarik bagi investor dan mendorong berkembangnya pesat hotel budget  baru untuk segmen medium,” urai HVS.

Demikian pula, di Kalimantan, perekonomian tumbuh didorong oleh industri minyak dan gas bumi, serta pertambangan batu bara, telah memicu meroketnya kebutuhan untuk kamar hotel.

Riset Indonesia Hotel Watch 2014 menyimpulkan bahwa sektor pariwisata Indonesia ke depan akan terus memegang potensi besar, terutama industri perjalanan dan jasa pariwisata yang didukung oleh penciptaan kesadaran global tentang tujuan wisata di Indonesia dan perbaikan berkelanjutan dalam infrastruktur pariwisata.

properti.kompas.com