Hasil Survei Tiga Bulanan Bank Indonesia : Di Triwulan I-2013, Terjadi Kenaikan Harga Rumah Sampai 7,4%

Big Banner

Survei harga properti residensial, merupakan survei tiga bulanan yang sudah lama dilaksanakan oleh Bank Indonesia sejak Triwulan I-1999. Survei ini dilakukan  terhadap sampel kalangan pengembang properti di 12 kota, yakni Medan, Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Wilayah Jabodetabek mulai masuk daerah survei sejak triwulan I-2002, sedangkan kota Pontianak baru masuk ke dalam wilayah survei pada triwulan I-2004. Dari total 14 kota tersebut, jumlah keseluruhan responden yang disurvei mencakup 45 pengembang properti utama di Jabodetabek dan Banten, serta sekitar  215 pengembang properti yang terdaftar di 13 kantor Bank Indonesia.

Menurut hasil survei terbaru pada triwulan I-2013, diperkirakan akan kembali terjadinya kenaikan harga rumah di awal tahun 2013 sebesar 7,4% dibandingkan awal 2012 lalu. Hasil Survei Harga Properti Residensial tersebut dikutip dari situs Bank Indonesia pada Jumat (15/2/2013).

Berdasarkan survei tersebut, kenaikan harga rumah paling tinggi terjadi di Makassar, yakni sebesar 15,6%. Selain itu wilayah Palembang juga terjadi kenaikan harga rumah sekitar 10,57%. Kenaikan harga juga terjadi di wilayah Denpasar, yakni sebesar 9,97%.

Dari sisi permintaan dan penawaran (triwulan I-2013) terhadap properti residensial di 14 kota besar diperkirakan cenderung tetap, jelas survei Bank Indonesia tersebut.

Jika didasarkan pada tipe rumah yang dijual, kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah di pasaran, namun kenaikan tertinggi terjadi pada rumah-rumah tipe kecil dengan kenaikan harga sekitar 8,24%.

Pada Triwulan IV-2012 (3 bvulan terakhir di tahun 2012) lalu, tercatat terjadinya peningkatan penjualan rumah sebesar 26,68% dibanding pada Triwulan III-2012. Kenaikan tertinggi terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang penjualannya mencapai 41,02% pada periode Triwulan IV-2012. Kemungkinan rumah tipe kecil masih akan tetap populer di masyarakat pada 2013 ini.

Berdasarkan lokasi penjualan, penjualan unit rumah kecil tertinggi terjadi di Jabodetabek dan Banten.

Hasil survei juga mengatakan bahwa 19,39% dari pengembang properti, mengakui adanya masalah kenaikan harga bahan bangunan yang menjadi penghambat bisnis mereka. Sementara itu, sebanyak 18,4% dari pengembang properti mengakui masalah tingginya suku bunga KPR juga menghambat sektor penjualan properti. Tercatat pula sebanyak 16,32% dari pengembang menyatakan masalah uang muka yang tinggi juga menghambat penjualan dan 15,63% dari pengembang menyatakan masalah perizinan juga turut jadi kendala dalam bisnis mereka.

Dari hasil survei ini terlihat jelas masalah-masalah apa saja yang  sebenarnya sangat menghambat penjualan properti di Indonesia. Bisa disimpulkan bahwa tingginya suku bunga KPR dan uang muka yang terlalu tinggi terbukti menurunkan minat masyarakat untuk membeli rumah pada pengembang. Sedangkan masalah naiknya harga bahan baku bangunan bisa menjadi faktor membumbung tingginya harga rumah jika tidak dikontrol, sehingga akan makin sulitlah masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah dengan harga murah. Bisakah pemerintah mengatasi masalah ini? Kita tunggu saja.

Ingin dapatkan iklan rumah dan apartemen disewakan yang sesuai kriteria Anda? Gunakan saja mesin pencari Rumahku.com, karena dalam hitungan detik, kebutuhan Anda akan deretan iklan rumah idaman bisa langsung terpenuhi. Ingin pasang iklan jual rumah secara gratis? Pasang di Rumahku.com saja, dijamin cepat tayangnya, cepat lakunya!

Sumber: (Detik)

rumahku.com