Pertumbuhan Pasar Perumahan Masih Ada Hambatan

Big Banner
Beberapa tahun terkahir, pertumbuhan sektor properti mengalami kenikan pesat. Indeks harga properti residensial dalam negeri (14 kota besar) naik sebesar 7,4 persen selama 2012 hingga akhir Q1-2013 (year onyear/YOY) yang disesuaikan inflasi harga properti yang meningkat hanya 2,04 persen. 
 
Bank Indonesia (BI) menyebut, angka ini sebagai kenaikan harga tertinggi sejak BI mulai menerbitkan hasil riset properti residensial pada kuartal I-2008. Dari sisi penjualan pun meningkat hingga 26,7 persen, dan rata-rata penjualan tertinggi dialami oleh rumah-rumah kecil dengan persentase 41 persen. 
 
Sementara itu pada sisi pertumbuhan, khususnya di sektor perumahan di Tanah Air, masih dinilai rendah jika dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia. 
 
“Performa sektor properti perumahan di Indonesia adalah suatu teka-teki,” sebut tim peneliti dari Global Property Guide, seperti dikutip dari situs resminya.
 
Terlebih, banyak permintaan (demand) perumahan yang luar biasa, namun belum dapat dipenuhi. Padahal jumlah penduduk RI terbesar keempat di dunia, yakni sekira 245 juta jiwa. 
 
Ada beberapa faktor yang telah menghambat pertumbuhan pasar perumahan di Indonesia, di antaranya, suku bunga KPR yang tinggi, pembatasan kepemilikan asing, tingginya biaya bahan bangunan, tingginya tarif pajak, dan birokrasi dalam pemerintahan. 
 
 
Namun, optimistis pasar masih akan terlihat pada tahun ini. Sebab permintaan properti, utamanya perumahan, masih sangat tinggi. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen pada 2012, dan diproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh sekira 6,2-6,6 persen pada 2013. 
 

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me