Keterbatasan Tanah Penghambat Sektor Perumahan Indonesia

Big Banner
Ketersediaan tanah yang terbatas di daerah perkotaan dinilai merupakan hambatan utama dalam sektor perumahan di Indonesia khususnya dalam mengatasi masalah “backlog” atau kekurangan perumahan bagi warga miskin di Tanah Air. Hal tersebut dikatakan oleh  Pelapor Khusus PBB untuk Hak Perumahan yang Layak, Raquel Rolnik.
 
“Situasi itu juga semakin diperparah setelah dalam 15 tahun terakhir, para pengembang swasta mendominasi pembangunan perkotaan di Indonesia,” kata Raquel dalam keterangan tertulisnya.
 
Dia mengatakan, Komersialisasi tanah perkotaan telah tersebar luas dan diikuti oleh spekulasi tanah dan monopoli tanah yang tidak terkontrol.
 
Raquel menjelaskan, hal tersebut berkontribusi kepada harga-harga yang meroket tinggi khususnya di pusat perkotaan utama sehingga mengurangi keterjangkauan tanah bagi rumah tangga dengan penghasilan rendah.
 
“Dengan rata-rata penghasilan per kapita sebesar sekitar 4.000 – 6.000 dolar AS per tahun, mayoritas dari populasi perkotaan tidak dapat membeli rumah dari pasar properti,” katanya.
 
Dia mengungkapkan, sebagian besar rumah yang dibangun oleh perusahaan real estate ditargetkan untuk investasi spekulatif oleh lebih dari 10 persen populasi perkotaan.
 
Namun dia memahami bahwa pemerintah Indonesia telah membuat beberapa peraturan pembangunan untuk mempromosikan distribusi pembangunan tanah seperti kebijakan 20 persen dari tanah di setiap proyek pembangunan perumahan horisontal harus dialokasikan untuk unit warga berpenghasilan rendah.
 
“Namun, saya telah diberitahu oleh para pejabat Pemerintah maupun masyarakat sipil bahwa peraturan-peraturan tersebut tidak dilaksanakan oleh para pengembang dan tidak ada monitoring dan penegakan yang efektif,” tutupnya.

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me