Pemerintah Akan Naikan Harga Rumah Subsidi

Big Banner
Rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan harga bahan bakar minyak (BBM), Pemerintah juga akan menaikkan batas harga maksimal rumah bersubsidi pada tahun ini. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu sebelum menentukan besaran kenaikan harga.
 
“Kenaikan yang terjadi pasti ada imbas dengan harga bahan bangunan, yang berimbas juga pada kenaikan harga rumah. (Besaran kenaikan) sedang kita hitung,” ujarnya.
 
Seperti diketahui, saat ini batas maksimal harga rumah bersubsidi dipatok Rp 88 juta-Rp 145 juta per unit menurut zonasi wilayah, dengan asumsi luas rumah 36 m2.
 
“Harga di Jakarta saja sudah Rp95 juta. Kalau naik 10% saja, harga akan naik Rp9,5 juta, sudah di atas Rp100 juta,” katanya.
 
Namun Djan mengaku belum menghitung persentase kenaikan.  Tapi bila kenaikan harga mencapai 10%, harga rumah subsidi bisa diatas Rp 100 juta. 
Pemerintah mematok harga rumah subsidi yang bisa memperoleh Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di Jabodetabek paling mentok Rp 95 juta.
 
Djan juga berjanji melobi perbankan untuk memperpanjang masa angsuran FLPP, dari 15 tahun menjadi 20 tahun. Supaya cicilan terjangkau. Dia mengklaim Bank Tabungan Negara (BTN) sudah menyanggupi.
 
Berdasarkan hitungan kasar Eddy Ganefo, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), biaya membangun setiap unit rumah bisa membengkak hingga 10% bila BBM naik. Meski industri properti memakai BBM non subsidi, tapi pengembang harus menanggung harga bahan bangunan serta biaya distribusi yang melonjak.

rumahku.com