‘BBM Naik, Properti Tetap Menjadi Kebutuhan’

Big Banner
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan BI Rate menjadi enam persen akan menjadi peluang bagi kalangan pengusaha properti. Namun, di sisi lain akan mengurangi daya beli masyarakat. Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Notopradono. 
 
Dia mengatkan, daya beli properti terutama dari masyarakat kalangan menengah ke bawah, akan mengalami penurunan dan berpotensi terjadi penundaan pembelian yang sifatnya jangka pendek (short term).
 
“Penundaan biasa seperti itu, tapi sifatnya jangka pendek. Properti itu kan produk anti-inflasi, jadi orang akan tetap membelinya,” kata Archied.
 
Menurut Archied, naiknya harga BBM bersubsidi juga akan menjadi peluang bagi pengusaha. Selain itu, koreksi terhadap harga jual produk properti pun akan dilakukan, mengingat biaya bangunan yang meningkat. 
 
“Revisi kenaikan harga BBM tentunya ada, sebab secara cost bangunan naik. Tapi seberapa besarnya, masih akan dihitung nanti. Saat ini cost-nya masih dalam range yang bisa di-manage perseroan,” ungkapnya.
 
Dia menjelasakan, yang perlu dilakukan oleh pengusaha properti adalah permainan konsep produk, di samping menentukan harga jual. Apalagi pada segmen pasar menengah ke atas.  
 
“Inovasi konsep produk harus lebih beragam, agar menarik. Kalau BBM naik, produk kelas atas tidak terlalu terpengaruh,” jelasnya. 
 

 

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me