Aturan LTV Dinilai Beratkan End User

Big Banner
Menjelang pemberlakukan LTV yang baru dari Bank Indonesia per 1 September 2013 diperkirakan masih membawa permasalahan yang serius terhadap penyediaan rumah untuk kalangan menengah yang sebagian besar merupakan end user. 
 
Berdasarkan pengamatan IPW, pemberlakuan LTV dengan tujuan untuk meredam aksi spekulasi dinilai terlambat karena harga sudah melonjak terlebih dahulu dalam dua sampai tiga tahun terakhir. Pembatasan LTV untuk tipe 70 m2 dirasakan tidak terlalu bisa meredam aksi pembelian rumah yang ada, karena khususnya di Jabodetabek harga rumah dengan tipe tersebut relatif menyasar segmen menengah atas yang nota bene mempunyai daya beli yang tinggi. 
 
Dengan demikian pemberlakukan LTV sebesar 60% untuk rumah kedua dan 50% untuk rumah ketiga tidak terlalu masalah untuk segmen menengah atas. Meskipun dampak penundaan pembelian tetap ada namun tidak terlalu signifikan.
 
Namun akan berbeda bila kita memantau harga rumah di luar Jabodetabek, dimana masih terdapat rumah-rumah tipe 70 m2 dengan harga Rp. 200 – 500 jutaan yang merupakan pasar bagi para end user. Jangankan di luar Jabodetabek, di pinggiran Jabodetabek pun masih dimungkinkan rumah dijual dengan harga tersebut.
 
“Yang menjadi permasalahan adalah bahwa rumah dengan harga tersebut merupakan pasar bagi end user dan bukan investor. Dengan pemberlakukan LTV 70%, maka konsumen end user akan kesulitan untuk dapat membeli rumah untuk rumah pertama karena uang muka yang harus disiapkan sebesar 30%. Hal ini menjadikan pasar menengah yang mulai bertumbuh sebagian besar tetap tidak dapat membeli rumah,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda dalam situs resmi Indonesia property watch, (15/08).
 
Selain itu dimungkinkan aksi spekulasi di segmen menengah atas yang dibatasi akan mulai memasuki rumah-rumah yang tadinya disediakan untuk pasar segmen menengah tersebut. Selain itu juga sebaigian pengembang akan menyiasati untuk membangun rumah dengan tipe-tipe lebih kecil dibawah tipe 70 m2 namun harga yang tinggi. Hal ini akan membuat kalangan segmen menengah semakin tidak sanggup membeli rumah.
 
“Karenanya akan bijaksana bila Bank Indonesia melakukan terobosan dengan melihat semua aspek dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Akan lebih baik bila Bank Indonesia meredam aksi spekulasi dalam kaitannya dengan besaran harga rumah dan bukan tipe rumah. Dengan bertumbuhnya daya beli masyarakat maka rumah seharga Rp. 200 – 500 jutaan bukanlah termasuk kategori mewah lagi melainkan menengah. Karenanya aturan Bank Indonesia dengan membatasi dari sisi tipe merupakan kebijakan yang sudah ketinggalan,” jelasnya.
 
Berdasarkan data pertumbuhan KPR tipe 70 ke atas tumbuh lebih tinggi 40,5% per April, lalu 25,9% pada Mei 2013. Tipe 22-70 tumbuh 18,1% per April, dan naik jadi 18,7% pada Mei. Sementara untuk KPR sampai dengan tipe 21, minus 27,6% pada April, dan minus 29% pada Mei 2013. Pertumbuhan rumah untuk tipe 70 ke atas semata-mata jangan dilihat sebagai aksi spekulasi melainkan merupakan bertumbuhnya kaum menengah di perkotaan.
 
Bila Bank Indonesia akan meredam aksi spekulasi yang ada maka yang harus menjadi target adalah rumah segmen menengah atas dan itu tidak dapat dianalogikan dengan besaran tipe rumah melainkan dengan membatasi dari variabel harga rumah untuk rumah minimal Rp. 1 miliar. Semoga Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan LTV yang lebih tepat sehingga tidak memberatkan kaum end user yang membeli rumah pertama.
 
 

rumahku.com