China Alami Perlambatan Harga Properti

Big Banner
Pertumbuhan ekonomi di China harus menghadapi tekanan yang berat khususnya dari sektor properti yang selama ini menjadi tumpuan kuat bagi negara yang ekonominya terbesar kedua di dunia ini. Tekanan yang harus dihadapi dimana pemasukan negara dari penjualan properti berkurang pasca jatuhnya harga properti.
 
Rata-rata harga rumah baru di 70 kota naik 7,32 persen dari tahun ke tahun pada bulan Maret, dimana harga naik 0,22 persen dibandingkan dengan 0,27 persen pada bulan Februari. Penjualan dalam tiga bulan yang berakhir Maret justru turun 7,7 persen menjadi 1,11 triliun yuan ($178 miliar).
 
Rata-rata harga rumah di Guangzhou naik 13,3 persen setelah melompat 15,7 persen pada bulan Februari. Di Beijing harga naik 10,3 persen dibandingkan dengan 12,2 persen pada bulan Februari. Shanghai dan Shenzhen naik 13,1 persen dan 12,8 persen setelah naik 15,7 persen dan 15,6 persen .
 
Dalam beberapa pekan terakhir penjualan jatuh dan turunnya harga telah mendorong pemerintah daerah untuk mempertimbangkan mengurangi beberapa pembatasan seperti kriteria kelayakan untuk rumah kedua atau berikutnya.
 
Analis Vibiz Research melihat pemangkasan harga rumah ini membuat pihak perbankan menjadi enggan untuk memberikan kredit kepada beberapa pengembang dan juga kepada konsumen. Sebagai informasi yang sudah diberitakan sebelumnya pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 7,4 persen dari tahun ke tahun pada kuartal pertama setelah mencapai 7,7 persen pada kuartal terakhir tahun 2013.
 
 
 
Sumber: Vibiznews

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me