Tanggul Laut di Teluk Jakarta Diragukan Manfaatnya

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GWS) yang telah digagas sejak zaman Gubernur Fauzi Bowo (Foke), kian mendekati tahap finalisasi untuk segera dimulai pembangunannya. Proyek yang disebut sebagai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) ini diperkirakan memakan biaya hingga Rp500 triliun.

giant sea wall garuda

Proyek GWS akan membentang di Teluk Jakarta sepanjang 30 km di tengah laut dengan posisi 6-8 km dari garis pantai. Selain akan membuat lahan baru, proyek ini juga ditujukan sebagai pengendali banjir dan penyedia air bersih. Hanya saja, pendapat berbeda dikemukakan oleh Ketua Kelompok Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB) Muslim Muin. Ia meragukan manfaat GWS yang merupakan proyek rekomendasi konsultan dari Belanda.

“Kondisi kita berbeda dengan di Belanda, ancaman dari laut itu tidak ada. Air laut masuk itu bukan karena muka air tanah yang naik tapi kondisi tanahnya yang turun seperti yang terjadi di Pluit,” ujarnya kepada housing-estate.com, di Jakarta, Senin (6/10).

Karena itu solusi membuat tanggul raksasa dinilai kurang tepat. Pembuatan tanggul itu juga akan menutup alur 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta sehingga dikhawatirkan akan membuat banjir di daerah aliran sungai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Rencana pengoperasian pompa untuk menyedot air sungai dalam jangka panjang juga tidak akan efektif. Menurut Muslim, GWS akan mengurangi kecepatan air mengalir ke laut. “Jalan keluarnya bukan dipompa melainkan tapi lebar sungainya diperlebar. Tapi ini sulit dilakukan sehingga yang paling mungkin sungainya dikeruk,” katanya.

Ia menyarankan sebelum membangun GWS Pemprov DKI sebaiknya membenahi lebih dulu sistem drainase. Kalau itu tidak dilakukan proyek apa pun tidak efektif membebaskan banjir di Jakarta.  Mengenai rob yang terjadi di Jakarta Utara itu terjadi karena penurunan tanah (subsidence). Solusinya cukup dengan river dike di daerah-daerah yang mengalami penurunan tanah.

River dike itu membangun tanggul di sepanjang pantai pada daerah subsidence dan mempertinggi tanggul sungai.  Rancangan ini lebih murah dan tidak menghilangkan hutan mangrove, pelabuhan ikan, dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN di Muara Karang,” imbuhnya.

GWS dinilai Muslim akan semakin merusak kondisi lingkungan di Teluk Jakarta karena polutan akan terperangkap akibat rendahnya sirkulasi air. Rencana untuk membersihkan air sebelum masuk ke Teluk Jakarta dinilai sia-sia. “Idenya salah kaprah, polutan itu dibersihkan di sumbernya, misalnya dengan STP (sewage treatment plant) di perumahan, kalau dibersihkan di tanggul berapa biayanya?, tandasnya. Yudis

Editor: H. Prasojo

housing.estate.com