JK: Masyarakat Harus Didorong Tinggal di Rusun

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Tinggal di rumah susun atau hunian vertikal di kawasan perkotaan menjadi keniscayaan. Jumlah penduduk yang terus bertambah dibarengi keharusan membangunan infrastruktur dan fasilitas kota menuntut pengunaan lahan seefisien mungkin. Pilihan tinggal di rumah tapak (landed house) atau di tempat-tempat kumuh hanya akan menghabiskan lahan dan membuat kota tidak manusiawi.

jusuf kalla

Untuk itu, menurut Jusuf Kalla (JK), mantan wakil presiden sekaligus wakil presiden terpilih 2014-2019, masyarakat harus didorong untuk tinggal di rumah susun. “Mau tidak mau masyarakat harus siap tinggal di rumah susun,” kata JK dalam sebuah diskusi yang digelar REI di Jakarta, belum lama ini.

Menurut JK, tidak ada alasan prinsip masyarakat enggal tinggal di rumah susun. Kesimpulan ini didapat ketika ia menjabat Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) saat meninjau bencana banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur.  Ketua RT di sana mengatakan, ia tinggal di bantaran kali Ciliwung karena nenek moyangnya sejak dulu juga tinggal di situ. Mereka tidak mengeluh kena banjir karena sekali setahun dan dapat bantuan makan gratis. “Jadi sebenarnya nggak ada alasan substantif dan prinsipil, hanya karena engkongnya tinggal di situ (dia bertahan di situ,” imbuhnya.

Keengganan tinggal di rumah susun lebih banyak disebabkan soal budaya. Masalahnya hanya karena belum pernah atau tidak terbiasa. Kalau sudah merasakan dan terbiasa masyarakat akan menerima. JK menceritakan temannya yang orang Melayu di Singapura awalnya kesal dipaksa tinggal di apartemen. Tapi setelah 10 tahun ia mengaku senang karena semuanya menjadi lebih mudah dengan lokasi apartemen strategis.

“Ini masalah kultur, mengubahnya memang tidak mudah tapi harus dilakukan. Kita harus mulai hidup ke atas (di hunian vertikal) sehingga kota bisa lebih ditata. Kalau tidak sampai kapan orang jadi tua di jalan, uang habis untuk transportasi, belum stresnya, orang sangat mudah marah di jalan,” katanya.

Dengan membangun hunian vertikal akan didapatkan ruang terbuka lebih banyak di perkotaan. Taman-taman publik bisa dibangun lebih banyak dan menjadi tempat bersosialisasi dan aktualisasi. Infrastruktur dan pedestrian juga dapat disediakan lebih baik lagi.  “Jangan harap ada pemain bola dari Jakarta. Bola itu 80-90 persen lari, di sini anak-anak mau lari di mana? Akhirnya main game, ke mal untuk cari udara segar karena nggak ada taman kota yang bisa diakses warga,” ujarnya.

JK mengaku heran kalau kendala utama pembangunan rumah susun disebabkan tidak tersedianya tanah murah. Pasalnya, ada Keputusan Presiden (Kepres) mengenai tanah negara untuk dibangun rumah susun dengan harga Rp1 juta/m2 tanpa mempertimbangkan harga pasaran.  “Rasanya sampai sekarang Kepres itu belum dicabut, (Kepres itu) intinya supaya orang bisa tinggal di tempat yang lebih layak,” tegasnya. Yudis

housing.estate.com