Boleh Iri, Begini Singapura Melindungi Konsumen Properti

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Indonesia dan Singapura merupakan negara dengan pasar properti sangat atraktif. Konsumen melimpah dan peningkatan nilai jualnya selalu di atas inflasi. Tapi soal perlindungan konsumen kita boleh iri dengan Singapura. Pemerintah negara kota ini membuat banyak aturan agar pengembang tidak semena-mena dan merugikan konsumen.

Seperti Indonesia, pengembang Singapura juga memasarkan produknya secara pre sale atau  menjual sebelum bangunannya jadi. Bedanya dengan Indonesia, konsumen tidak mencicil atau menyerahkan DP  kepada developer tapi ada rekening khusus yang disebut account project.

properti singapura

“Uang konsumen masuk ke account project dan account ini dilindungi oleh pemerintah. Rekening tersebut tidak dipegang developer sehingga kalau developernya kabur, uang konsumen tetap aman,” ujar Teddy, Team Leader Property Sales Far East Organization (FEO), salah satu perusahaan pengembang Singapura kepada housing-estate.com di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pembayaran secara bertahap (installment) harus sejalan dengan progres pembangunan. Tahap pertama konsumen membayar sebesar 20 persen sebagai tanda jadi pembelian. Kemudian berturut-turut membayar lagi 5-10 persen, misalnya untuk setiap penyelesaian pondasi, struktur, dan progres  lain pada bangunan.

Sampai bangunan jadi atau siap ditempati konsumen membayar 80 persen. Pada tahap ini konsumen sudah bisa menempati huniannya selama satu tahun yang merupakan batas waktu garansi. Apabila tidak ada komplain lagi konsumen baru melunasi 20 persen sisanya. Secara keseluruhan pembayarannya 9-10 tahap.

Kendati bisa minta kredit ke bank,  developer di Singapura harus memiliki modal kerja cukup. Mereka juga membuat perjanjian (agreement)  dengan pemerintah kapan proyeknya selesai, apabila mundur dari jadwal yang dijanjikan dikenakan pinalti. Beragam aturan itu dibuat pemerintah agar sektor real estat berjalan secara fair dan transparan.

Kondisi moneternya juga sangat mendukung. Bunga KPR di Singapura berkisar 1,5 – 1, 8 persen per tahun dengan masa kredit (tenor) hingga 30 tahun. Teddy mengungkapkan bahwa kondisi pasar properti Singapura pada awalnya seperti Indonesia. Properti dijadikan sebagai ajang investasi sehingga kenaikan harganya tidak terkendali.

Pemerintah kemudian mengendalikan dengan menekan rasio pemberian kredit kepada konsumen atau loan to value (LTV).  Mula-mula DP-nya 20 persen, kemudian naik menjadi 30 persen, dan pada Januari 2011 konsumen harus menyetor DP 40 persen.  “Pemerintah Singapura ingin menciptakan pasar properti dimana harganya tumbuh sejalan  dengan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Saat ini 90 persen warga Singapura (5,4 juta) sudah memiliki rumah. Sebagian besar dari mereka (76,1 persen) tinggal di apartemen. Karena itu, kendati cukup padat, Singapura tetap nyaman ditinggali karena ruang terbukanya memadahi. Selain itu iklim ekonomi dan politiknya sangat stabil. Yudis

 

housing.estate.com