Pengembang Menilai Konsep Hunian Berimbang Tidak Tepat

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Ketentuan tentang hunian berimbang 1:2:3, yakni pembangunan satu rumah mewah harus diikuti dengan pembangunan rumah menengah dan sederhana dengan rasio itu, belum diterima pengembang sebagai konsep yang dapat memenuhi kebutuhan  hunian masyarakat kelas bawah. Menurut Direktur PT Ciputra Development Tbk, Tulus Santoso, permasalahan defisit rumah (backlog) yang jumlahnya mencapai 15 juta rumah bukan karena tidak adanya suplai dari pengembang melainkan persoalan daya beli masyarakat.

Karena itu Tulus mengusulkan agar yang dibenahi persoalan yang dapat meningkatkan daya beli, misalnya bunga dan perizinan untuk rumah sederhana dibuat lebih murah dan mudah. Ia khawatir kalau semua pengembang besar diminta membangun rumah sederhana persaingan di segmen ini bakal tidak sehat.

Tulus menyebutkan dari 3.000 pengembang anggota Realestat Indonesia (REI), 500 diantaranya merupakan pengembang besar, selebihnya pengembang kecil yang mengembangkan rumah menengah bawah dan sederhana. “Kalau pengembang besar masuk segmen mereka sudah pasti akan merusak usaha pengembang kecil,” katanya.

Terkait pelaksanaan hunian berimbang 1:2:3 itu Menpera Djan Faridz sudah melaporkan ratusan pengembang ke Mabes Polri karena dinilai tidak punya itikad baik untuk melaksanakan. Namun laporan tersebut tidak cukup untuk menekan kalangan pengembang mengikuti aturan yang berlaku.

“Nanti ganti menteri juga aturannya hilang sendiri, lagipula kita sudah bangun empat tower Rusunami di Pulogebang hasil konsorsium 18 pengembang,” ujar CEO PT Perdana Gapuraprima Tbk, Rudy Margono. Yudis

housing.estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me