Kredit Properti dan Otomotif Syariah Melampaui Batas

Big Banner

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat pembiayaan perbankan syariah ke sektor properti dan otomotif telah melampaui batas.

“Persentase pembiayaan perumahan dan kendaraan bermotor itu sekarang sudah 13 persen dari total. Ini sudah lebih 3 persen di atas batas yang kita tetapkan,” tutur Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia Edy Setiadi di Jakarta, Rabu 24 Oktober 2012.

Bank Indonesia mencatat kucuran pembiayaan perbankan syariah per September 2012 telah mencapai Rp 134 triliun atau nail sekira 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari angka tersebut, sebesar Rp 17,42 triliun terkucurkan untuk sektor properti dan otomotif.

Sektor pembiayaan perbankan syariah kini tengah menjadi salah satu fokus otoritas perbankan. Hal ini berkaitan dengan ancaman penggelembungan ekonomi (bubble) apabila kredit konsumsi semakin membengkak sehingga bank sentral berupaya membatasi kucuran kredit konsumsi di perbankan syariah dengan memberlakukan ketentuan LTV seperti perbankan konvensional.

“Jadi kita mulai siapkan aturannya. Kalaupun keluar tahun ini, belum tentu akan efektif di tahun ini juga. Yang pasti akan berlaku bersamaan dengan Bapepam LK untuk aturan DP di industri multifinance,” tuturnya.

Selain itu, BI juga menjadikan rasio kecukupan modal (CAR) dan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) sebagai indikator untuk melihat tingkat keamanan pembiayaan di satu sektor.

“Kalau DP KPR dan KKB tetap minimal 10 persen, bila pembiayaannya default 20 persen, itu tidak pengaruh ke CAR. NPF juga, masih di bawah ukuran yang berbahaya. NPF untuk perumahan itu 2,3 persen, dan kendaraan bermotor di kisaran 1 persen. Tapi di porsinya (pembiayaan) sudah melampaui, total 13 persen. Ini dicermati, artinya jangan pembiayaan banyak mengarah ke prumahan dan kendaraan bermotor,” katanya.

FIONA PUTRI HASYIM

properti.tempo.co

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me