Pengamat Pertanyakan Penundaan Konsolidasi Mandiri-BTN

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Pengamat ekonomi dari Universitas Padjajaran Kodrat Wibowo mempertanyakan keputusan pemerintah menunda rencana konsolidasi Bank Tabungan Negara (BTN) oleh Bank Mandiri dengan alasan perbedaan segmentasi pasar antar-kedua bank plat merah tersebut.

“Perbedaan segmen pasar, yang satu melayani pasar umum, kredit mikro, perumahan, dan lain-lain, lalu BTN bank perumahan, tidak bisa jadi alasan,” ujar Kodrat di Jakarta, Selasa.

Rencana akuisisi BTN oleh Bank Mandiri

Ia menuturkan, sebetulnya rencana konsolidasi kedua bank itu bisa menimbulkan efek sinergis yang luar biasa. Apalagi, dari sisi kinerja, penyaluran kredit perumahan Bank Mandiri justru jauh lebih besar dari BTN.

“Ini kan aneh. Masak Bank BTN yang fokus ke perumahan, penyaluran kredit perumahannya jauh lebih kecil dari Bank Mandiri. Saya bingung kenapa (perbedaan segmentasi) itu jadi alasan,” kata Kodrat.

Kodrat menjelaskan, sebetulnya pemerintah bisa membesarkan Bank BTN dan tidak mengerdilkan peranannya, melalui penguatan modal bank tersebut lewat injeksi modal (penyertaan modal negara/PMN) APBN. Namun, hal tersebut membutuhkan proses panjang, mulai dari persetujuan Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, hingga DPR RI. Belum lagi, APBN sejak beberapa tahun terakhir masih terus mengalami defisit, sehingga sangat sulit mengalokasikan dana PMN untuk memperkuat modal BTN.

Menurut Kodrat, pemerintah harus mengutamakan tujuan yang lebih besar, yakni bagaimana memperkuat arsitektur perbankan Indonesia agar siap menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Apalagi asas resiprokal yang coba diperjuangkan Indonesia ternyata tidak berhasil, karena negara-negara tetangga terus menghalangi kehadiran bank-bank nasional dengan berbagai regulasi yang ketat, seperti aturan volume kredit, cabang, dan lain-lain, sehingga menyulitkan perbankan nasional untuk ekspansi ke luar negeri.

“Di sisi lain, bank-bank asing bebas ekspansi di Tanah Air. Makanya harus ada konsolidasi,” ujar Kodrat.

Ia mengharapkan, pemerintahan mendatang bisa mencegah upaya pengerdilan Bank BTN. Jika upaya penguatan modal BTN tidak bisa dilakukan melalui APBN, pemerintahan mendatang harus menyediakan alternatif dukungan permodalan bagi BTN, melalui bank BUMN yang lebih kuat.

“Yang paling mungkin dengan konsolidasi, karena kemampuan APBN kan terbatas. Dengan akuisisi oleh Bank Mandiri, kinerja BTN juga akan lebih mudah diperbaiki,” kata Kodrat.

Untuk itu, lanjut Kodrat, upaya sosialisasi mutlak perlu dilakukan terutama kepada pihak-pihak di Bank BTN.

“Mereka harus diberi pengertian bahwa konsolidasi dengan Bank Mandiri ini demi kepentingan bangsa yang lebih besar dan bukan untuk semakin mengerdilkan BTN atau untuk dibubarkan,” ujar Kodrat.

Sebelumnya, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri menilai, alasan pembatalan akuisisi BTN yang dikemukakan pemerintah, yakni lantaran Bank BTN adalah bank khusus yang dibangun untuk menunjang sektor perumahan rakyat, sementara Bank mandiri merupakan bank umum, adalah alasan yang tidak tepat.

“BTN itu kan bank khusus kredit perumahan. Masa kredit perumahan BTN (yang fokus di situ) kalah sama Bank Mandiri sebagai bank umum. Padahal, sebetulnya ini untuk mendorong BTN agar lebih baik lagi. Harusnya BTN sebagai mortgage bank, bisa lebih besar lagi,” kata Faisal.

Menurut Faisal, penggabungan atau konsolidasi antardua bank itu perlu dilakukan, tidak hanya untuk menjadikan bank asal Indonesia besar di ASEAN, tapi justru untuk memperbesar deposit to GDP ratio dan indeks inklusi finansial.

“Buat saya yang penting fungsinya terpenuhi dan bersinergi,” ujar Faisal. Ant.

housing.estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me