Pelapis Anti Bocor

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Bocor dan rembes adalah masalah klasik pada musim hujan. Bukan hanya karena genteng retak tapi juga karena dinding tidak kedap dan sambungan kurang rapi sehingga tidak kuat menahan terpaan air. Apalagi, saat iklim tak menentu seperti sekarang. Hujan sering disertai angin kencang yang menerpa ke berbagai arah. Karena itu rumah harus selalu prima agar kuat menahannya. Atap, dinding dan sambungan harus rapi, solid tanpa retakan sehalus apapun. Salah satu material yang bisa dipakai untuk memastikannya adalah waterproof (pelapis anti bocor).

Menghadapi cuaca yang kian tak menentu, rumah harus selalu dalam kondisi prima.

tren-bahan-bangunan_Pelapis Anti Bocor_#69_1

Belum ada yang baru dari produk waterproof. Masih seperti yang pernah beberapa kali ditulis di majalah ini sebelumnya. Hanya sekarang mereknya makin banyak. Ini di satu sisi baik bagi konsumen karena pilihan kian beragam, di sisi lain bisa membingungkan. Karena itu pada musim hujan ini kami kembali mengulas soal waterproof supaya Anda tidak terombang-ambing oleh klaim setiap produsen, tapi fokus memilih produk sesuai dengan peruntukan.

Bahan baku waterproof dapat dibagi dalam empat golongan: polimer/akrilik, semen (cementitious)/cairan aditif, membran, dan bitumen (aspal). Bentuknya bisa berupa pasta yang tinggal dikuaskan laiknya cat tembok; serbuk dan cairan aditif atau salah satunya; bisa juga lembaran (sheet).

tren-bahan-bangunan_Pelapis Anti Bocor_#69

Polimer/akrilik

Yang paling populer dan praktis aplikasinya, tinggal dikuas atau di-roll ke bidang yang ingin dilapisi adalah waterproof berbasis polimer/akrilik. Ini bahan sejenis plastik berbentuk pasta yang elastis. Polimer lebih elastis daripada akrilik. Karena itu lebih banyak dipakai untuk waterproof. Sedangkan akrilik lazim digunakan untuk bahan cat tembok (dekoratif).

Elastisitas ini penting karena bangunan memuai dan menyusut. Dengan bahan yang elastis, lapisan waterproof akan mengikuti pemuaian/penyusutan itu dan tidak getas sehingga bidang yang dilapisi tetap tertutup. Sebagian produk waterproof berbasis polimer/akrilik hanya direkomendasikan untuk tembok atau yang sejenis. Yang lain seperti Aquaproof diklaim kuat juga diaplikasikan di permukaan kayu, kaca, plastik, polikarbonat dan lain-lain.

“Lengketnya cukup bagus. Hanya kebetulan Aquaproof lebih sering digunakan untuk beton karena kebanyakan rumah terbuat dari dari beton. Orang lalu menganggap cocoknya hanya untuk beton,“ kata Herman Moeliana, Chairman PT Adhi Cakra Utama Mulia, produsen Aquaproof dan Aquagard dalam sebuah wawancara dengan HousingEstate. Karena anggapan itu pula yang banyak dipakai waterproof warna abu-abu. Padahal, karena bocor dan rembes bisa datang dari dinding, Aquaproof ditawarkan dalam banyak warna sehingga sekaligus berfungsi sebagai cat dekoratif.

Namun, apapun mereknya waterproof berbasis polimer/akrilik hanya layak untuk melapisi area yang dilalui atau suka terkena air dan jarang dilintasi. “Tidak untuk bidang yang terus menerus terendam air seperti bak mandi dan kolam renang,” kata Wenas Setia, Product Manager PT Tirta Kencana Tata Warna, distributor waterproof merek No Drop. Kalau dipaksakan juga, daya rekatnya tidak akan lama. Sebentar saja lapisan akan mengelupas. Waterproof ini juga tidak dianjurkan untuk area dengan lalu-lintas tinggi karena lapisannya akan terkikis.

Bahkan, untuk area sambungan dan bidang yang sangat rawan bocor, beberapa produk seperti Exxo menganjurkan penggunaan serat fiber sebagai penguat aplikasi waterproof berbasis polimer/akrilik. Caranya, lapiskan waterproof di atas bidang yang hendak ditutup, di atas lapisan yang masih basah itu rekatkan serat fiber. Setelah kering lapiskan waterproof kedua sebagai top coat. “Tapi, kalau hanya untuk melapisi, Exxo cukup diencerkan dengan air maksimal lima persen. Sedangkan untuk menutup permukaan retak baiknya dicampur semen dengan rasio 5:1,“ ujar Chandra Budiono, Technical Lab Pacific Paint, produsen Exxo Waterproofing.

Semen/cairan aditif

Waterproof ini biasanya terdiri dari bubuk dan cairan penguat (aditif) yang dicampur dengan air dan semen sebelum diaplikasikan. Atau bisa juga hanya berupa serbuk atau cairan yang dicampur dengan semen dan air. Fungsinya sama: membuat beton lebih solid dan kedap air karena bahan waterproof sudah dicampur sejak awal sehingga menjadi satu kesatuan yang homogen dengan adukan semen.

Karena itu waterproof ini paling cocok untuk bidang rawan genangan dan selalu terendam air seperti kolam. Aplikasi sangat disarankan pada masa konstruksi kendati bisa juga pasca konstruksi. “Aplikasi saat konstruksi akan membuat hasilnya lebih maksimal,” kata Robiyan, Marketing Manager PT Prima Graha Bangun Tunggal, sole agent Damdex, salah satu produk waterproof berbasis semen.

Damdex adalah contoh waterproof berbasis semen yang hanya berupa cairan aditif. Komposisi adukannya: satu bagian Damdex dicampur dengan dua bagian semen dan satu bagian air, baru diaplikasikan. Per liter Damdex diklaim cukup untuk menutup dak beton seluas 3 m2 dan dinding 4 m2. Produk sejenis lain adalah Aquapel. Penggunaannya cukup dengan mengurangi 10 persen air pada adukan beton digantikan dengan cairan ini.

“Dengan menggunakan Aquapel keseluruhan bagian beton menjadi waterproof tanpa perlu perawatan atau aplikasi ulang,” ujar Rodel dela Pasion, National Sales Manager PT Cementaid Sales and Services Indonesia, produsen Aquapel. Selain sebagai waterproof, Damdex dan Aquapel juga mempercepat pengerasan beton sehingga proses konstruksi bisa diringkas.

Sementara Aquaguard, Asanaproof, Pentens, Supercement dan Lemkra adalah contoh-contoh waterproof berbasis semen yang terdiri dari bubuk dan cairan aditif. Bubuk dan cairan dicampur dengan semen dan air, lalu diaplikasikan dengan kuas, roll atau roskam baik untuk bidang datar maupun vertikal. Per satu set (enam kg) Asanaproof misalnya, cukup untuk permukaan seluas 3 m2 dengan tebal satu milimeter (mm). Sedangkan dua kg Lemkra dapat dipakai untuk melapisi bidang 1 m2 dengan tebal 1,5 mm. Sesuai namanya waterproof berbasis semen hanya bisa diaplikasikan pada bidang beton dengan pilihan warna abu-abu dan atau putih. “Beton itu kan berpori. Dengan warna putih akan kelihatan bagian yang belum tertutup,” kata Puji Purnomo, Supervisor Teknisi PT Guna Bangun Jaya, distributor Lemkra.

Bitumen

Dibanding waterproof berbahan polimer/akrilik dan bubuk/cairan aditif,  waterproof berbasis aspal lebih terbatas pilihannya. Beberapa di antaranya adalah Flinkote, Pentens dan Bituthene yang didistribusikan PT Prokon Bangun Mitra Sukses. Biasanya waterproof ini diproduksi perusahaan minyak bumi. Flinkote misalnya, adalah produk waterproof keluaran Shell.

Menurut Binsar Dongoran, Manager Divisi PT Prokon Bangun Mitra Sukses,  waterproof berbasis bitumen lebih lentur, lebih tebal dan lebih awet. Kelemahannya, tidak bisa diekspos (terpapar panas dan hujan). Jadi, setelah aplikasi lapisan harus ditutup lagi, dengan keramik misalnya. “Waterproof sebenarnya lebih bagus diproteksi, tidak diekspos, karena lebih tahan lama. Produk waterproof yang sekarang banyak beredar hanya mengejar kepraktisannya,” lanjutnya.

Untuk menjamin pelapisan yang optimal, aplikasi juga disarankan oleh yang ahli. Karena itu Flinkote, Pentens dan Bituthene dijual berikut pemasangan dengan minimal order 100 m2. “Kalau dilepas ke konsumen, aplikasi bisa salah dan produknya yang dianggap jelek. Tapi, aplikasi oleh kita bergaransi 5 – 10 tahun,” jelasnya. Aplikasi waterproof berbasis bitumen hanya disarankan untuk bidang yang tidak tergenang air.

Waterproof bitumen tersedia dalam bentuk pasta dan membrane sheet (gulungan) dengan ukuran sekitar 1 x 20 m dan tebal 1,5 mm. Yang berupa membran disebut juga self adhesive membrane sheet karena aplikasinya tinggal ditempel seperti stiker. Ada juga yang perekatannya dengan dibakar. Ukurannya lebih tebal, antara 3 – 4 mm. Beberapa kalangan mengklaim sistem bakar lebih kuat merekat. “Tapi, sistem bakar lebih repot, kualitas pembakaran belum tentu sama. Belum bicara polusi asapnya,“ ujar Binsar. Yudiasis Iskandar

Pra Aplikasi

Waterproof apapun yang dipilih, penting memerhatikan rekomendasi pemakaian untuk mendapatkan hasil yang optimal. Misalnya, untuk waterproof berbasis semen, aplikasi sebaiknya dilakukan dalam proses konstruksi. Kalau baru pasca konstruksi, pastikan ketebalan aplikasi cukup memadai menutup bidang tembok, melekat kuat dan rapi.

Sementara untuk waterproof berbasis polimer/akrilik dan membran, permukaan yang hendak dilapisi harus kering, bersih dari berbagai kotoran seperti minyak, lumut, partikel padat dan lain-lain. “Bagaimanapun bagus produknya, kalau permukaan yang mau dilapisi kotor, hasilnya tidak akan bagus,“ kata Herman.

Bila ada retakan, perlu di-treatment dulu sebelum dilapisi. Permukaan beton harus padat, tidak kropos dengan leveling cukup baik agar tidak menjadi area genangan. Untuk dak atau lantai, ketebalan aplikasi jangan dikurangi dari yang disarankan. Kecuali untuk dinding, aplikasi bisa ditolerir ditarik lebih luas (di-stretch). Khusus waterproof berbasis semen, pasca aplikasi masih diperlukan finishing cat, keramik atau yang lain. Sedangkan waterproof berbasis polimer/akrilik kini tersedia dalam berbagai warna sehingga bisa sekaligus menjadi cat dekoratif.

 

housing.estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me