Ada Tujuh Kategori Bangunan Ramah Lingkungan

Big Banner

Satu di antara tujuh kategori tersebut adalah small spaces. Kategori ini tidak diartikan sebagai ruangan yang sempit, melainkan efisiensi ruang. Menurut Wendhy, kita kerap kali menempatkan ruangan-ruangan yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan. Jika memang memungkinkan, ujarnya, mengapa tidak menggabungkan lebih dari satu fungsi, dalam satu ruangan.

“Contohnya ruang tamu. Kalau kita memang lebih sering menerima tamu di luar, atau langsung di ruang keluarga, kita tidak perlu membuat ruangan khusus. Kita ganti saja dengan menempatkan set meja dan kursi di teras, sebagai pengganti ruang tamu,” ujar Wendhy mencontohkan.

Kategori lain yang juga jadi sorotan adalah penghematan air. Menurut Wendhy, kategori yang satu ini memerlukan upaya edukasi yang tinggi. Kita, ujarnya, terbiasa dengan air melimpah. Mandi “mewah” dengan berendam di bathtub, mencuci kendaraan dengan air yang mengalir dan terbuang kemana-mana, dan sebagainya. Padahal tidak terlalu repot untuk menghemat air, salah satu contohnya, ganti saja bak mandi atau bathtub dengan shower.

Kalau bicara mengenai material bangunan, akan berkaitan dengan dua kategori lainnya, yaitu penggunaan material lokal dan meminimalisasi penggunaan kayu baru. Penggunaan material lokal dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, produksi karbon monoksida dari kendaraan, dan menghemat biaya juga. Pasalnya, penggunaan material lokal akan memperpendek jarak tempuh kendaraan yang digunakan dalam proses pengiriman.

Sedangkan mengurangi penggunaan material kayu berkaitan dengan konservasi hutan. Bukan berarti tidak boleh menggunakan kayu. Kalau tetap ingin menggunakan kayu, kata Wendhy, gunakan kayu bekas.

“Saat merenovasi rumah, misalnya. Jangan beli kusen baru, gunakan saja kusen lama. Ini sebenarnya tantangan juga untuk para arsitek dan desainer interior, untuk membuat desain yang sedikit sekali, bahkan jika perlu, tanpa menggunakan kayu, ” ujarnya.

Tiga kategori berikutnya adalah, penggunaan energi matahari, menggunakan sumber-sumber energi yang bisa diperbarui, dan terakhir adalah ketahanan sebuah bangunan. Dua kategori pertama, menurut Wendhy, berkaitan dengan teknologi, yang mungkin bagi sebagian orang masih dirasa mahal. Tapi kita bisa memulainya, misalnya dengan mengurangi penggunaaan lampu, dan memaksimalkan cahaya matahari untuk penerangan rumah, di siang hari.

Sedangkan mengenai ketahanan bangunan, lanjutnya, berarti semakin awet sebuah bangunan, semakin ramah lingkunganlah ia. Pasalnya, bangunan yang tahan lama tidak membutuhkan banyak perbaikan atau renovasi besar-besaran.

Foto: iDEA Online/ Anissa Q. Aini

ideaonline.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me