Inilah Cara Pengembang Dalam Meramaikan Mal

Big Banner

Faktor lokasi menjadi salah satu hal yang penting tingkat keramaian sebuah pusat belanja atau mal.  

 

 

 

Hingga saat ini, kawasan Jakarta dan sekitarnya marak disesaki pusat perbelanjaan. Tercatat di Jakarta memiliki 75 pusat belanja (mal) atau 30% dari total 250 pusat belanja yang ada di seluruh Indonesia.  

 

Pasokan berlimpah, persaingan bakal ketat. Kadang, di satu kawasan, ada beberapa pusat perdagangan modern. Di Jalan Casablanca, misalnya. Di situ ada Kota Kasablanka yang digarap oleh Pakuwon Group, Kuningan City Mal, Mal Ambassador, ITC Kuningan, maupun Lotte Shopping Avenue. Sudah tentu sadar-tidak, berlangsunglah perang berebut pengunjung. Di situ, promosi merupakan satu cara untuk menghisap pengunjung sebanyak mungkin.  

 

Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia mengatakan, sesungguhnya promosi gencar dan berbiaya banyak, merupakan kegiatan yang kurang efektif untuk menarik banyak pengunjung. “Sebab, promosi itu kan sebenarnya sekadar pelengkap dari positioning pusat perbelanjaan modern,” dia menegaskan beberapa waktu lalu.

 

Ada sejumlah faktor non-promosi yang sangat menentukan tingkat keramaian suatu pusat perbelanjaan modern. Apa saja itu? Antara lain, pertama, konsep alias positioning yang pas. Ini harus dilakukan sedari awal, sedari pusat perdagangan tersebut belum selesai dibangun.

 

“Pengembang harus dengan jeli menetapkan: pusat perdagangannya itu menyediakan barang seperti apa? Bagi mereka, sangat penting untuk mencari positioning yang sangat khas ataupun sangat spesifik. Andai pusat perdagangan tersebut akan menjadi tempat penjualan handphone dan komputer, ia harus mencari celah yang lebih spesifik,” paparnya.

 

Lalu, faktor lokasi. Di sini, selain harus strategis, letak pusat perdagangan modern pun  mesti mudah dijangkau transportasi umum. “Jangkauan transportasi umum sangat penting. Sebab, sebagian besar pembeli atau pengunjung pusat perdagangan modern adalah para pedagang yang tentunya lebih banyak menggunakan transportasi umum—lain dengan pusat perbelanjaan modern atau mal yang pengunjungnya banyak dari strata ekonomi A-B dan menggunakan kendaraan pribadi,” sebut Ferry Salanto, Associate Director Research Colliers International Indonesia.  

 

Pun, selain strategis, lokasi pusat perdagangan modern harus dikelilingi kawasan pemukiman maupun perkantoran. Sehingga, di kawasan tersebut menjadi potensi pasar yang bagus.

 

Itulah syarat yang harus dipenuhi sebelum suatu pusat perdagangan modern mulai dibangun. Setelah dibangun pun, ada lagi hal yang harus dikawal sehingga pengunjung ramai berdatangan.

 

Yakni, tenant harus banyak yang buka. Para tenant yang senantiasa buka melahirkan beragam pilihan dan memancing pengunjung untuk datang. Ini memang buah simalakama bagi sebuah pusat perdagangan. Sebab, biasanya, di bulan atau tahun pertama, tingkat kunjungan masih rendah sehingga banyak pemilih tenant yang memilih tak beroperasi. Alhasil, pengelola harus mengupayakan agar tenant yang buka berjumlah banyak.

 

Begitulah, ada promosi gencar, ada banyak pengunjung. Langkah yang harus ditempuh pengembang dalam menjalankan sebuah pusat belanja.

 

 

Haryanto
Foto: Haryanto

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me