Menanti “Stasiun Eropa” Bantu Atasi Macetnya Tanjung Priok

Big Banner

Pernah berkunjung atau melihat Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara? Jika Anda pernah melihatnya, pasti tak menyangkal bahwa stasiun ini merupakan salah satu stasiun terapik di Jakarta. Gaya bangunan yang klasik dengan atap peron yang melengkung tinggi membuat stasiun ini menyerupai stasiun-stasiun yang ada di Eropa. 
“Ini mirip stasiun kereta di London, Berlin, tentu saja Belanda,” ujar pengamat ekonomi Faisal Basri, saat pertama kali berkunjung ke stasiun ini, Kamis (28/6/2012), tahun lalu.
Karena “kecantikannya” pula, stasiun ini kerap menjadi lokasi syuting, baik iklan maupun video klip serta kegiatan-kegiatan hiburan lainnya. Stasiun Tanjung Priok memang menjadi salah satu bangunan bersejarah peninggalan era kolonial Belanda di Jakarta.
Stasiun yang diarsiteki oleh CW Koch Statts Spoorwegen ini, dibangun pada tahun 1914 saat Batavia (nama Jakarta di era kolonial) di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal AFW Idenburg. Stasiun ini sempat lama tak beroperasi sampai akhirnya dilakukan renovasi besar-besaran dan dibuka kembali pada 2009.
Pada tahun 2011, saat PT KAI melakukan penyederhanaan rute KRL Jabodetabek, Stasiun Tanjung Priok sempat melayani juga rute KRL untuk relasi Tanjung Priok-Jakarta. Rute ini menjadi satu dari enam rute yang ada. PT KAI akhirnya menutup rute ini sekitar pertengahan 2012.
Pertimbangan ekonomis menjadi alasan rute yang hanya melintasi tiga stasiun ini, yaitu Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Ancol dan Stasiun Tanjung Priok, akhirnya ditutup.
“Penumpangnya sedikit sekali, kadang-kadang enggak ada. Akhirnya ditutup sekitar 2012,” kata Kepala Humas PT KAI Daops I Sukendar Mulya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (23/7/2013).

Rindu keberadaan KRL 
Sejumlah warga kawasan Tanjung Priok yang ditemui Kompas.com, Selasa (23/7/2013), menyatakan, mereka merindukan KRL kembali ke kawasan tersebut. Dengan bantuan KRL, mereka berharap dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerja mau pun sebaliknya.
Pengen banget ada lagi KRL ke Priok, jadinya kan tidak usah bermacet-macetan ke Stasiun Kota dulu,” kata Lidyana (24), warga Kebon Baru, Jakarta Utara.
Untuk berangkat kerja dari rumahnya di Kebon Baru menuju Stasiun Kota, Lidyana sudah berhadapan dengan kemacetan. Dia baru bisa sedikit bernapas jika sudah duduk di KRL yang menuju Tebet, Jakarta Selatan.

Hal serupa juga diungkapkan Diah (53) yang sering beraktivitas ke daerah Kota dan sekitarnya.
“Terbantu sekali bila KRL ke Tanjung Priok dioperasikan kembali. Bisa menjadi salah satu alternatif dan solusi transportasi di Priok yang sudah kacau ini,” harapnya.
Saat dikonfirmasi, PT Kereta Api Indonesia menyatakan belum tahu apakah rute KRL dari Jakarta Kota ke Tanjung Priok akan dibuka kembali. Stasiun Tanjung Priok memiliki delapan perlintasan rel. Namun, saat ini, stasiun tersebut hanya melayani kereta barang peti kemas menuju Pelabuhan Tanjung Priok serta kereta ekonomi jarak jauh seperti ke Stasiun Pasar Turi Surabaya, Solo Jebres dan Kediri.
“Saya juga enggak tahu apakah mau akan dioperasikan kembali. Padahal sayang stasiunnya bagus, kayak di Paris,” ujar Sukendar Mulya.

Sumber: Kompas.com

ideaonline.co.id