Pasar Properti Indonesia Masih Jauh Dari Dampak Buruk Bubble

Big Banner

Tak hanya apartemen, gedung perkantoran pun terus mengalami pertumbuhan

 

Isu kekhawatiran Pemerintah tentang bubble properti di Indonesia, rupanya tidak dibenarkan lembaga analisa properti Jones Lang LaSalle. Dari data yang dilansir lembaga tersebut, pertumbuhan perekonomian Indonesia yang tergolong kuat.

 

Secara global, pertumbuhan perekonomian masif dalam taraf wajar yaitu kisaran 6% pertahun. Stabilitas indikator makro-ekonomi perkembangan pasar properti masih berada dalam level yang positif. Bahkan, memasuki triwulan kedua tahun 2013, semua sub sektor properti di Jakarta mengalami kenaikan, baik dalam hal permintaan maupun harga.

 

Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle mengatakan, tren pertumbuhan positif tersebut telah berlangsung sekitar tiga tahun belakangan. Pasar properti di Indonesia khususnya Jakarta mencuat sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik bagi penanam modal asing dan internasional.

 

Kekhawatiran terhadap dampak bubble yang mengincar pasar properti di dalam negri dirasa terlalu berlebihan, karena fundamental perekonomian dan pasar saat ini berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding waktu-waktu yang lalu. Kinerja positif pasar properti di Jakarta sepanjang triwulan II tahun 2013 juga tergambar oleh kenaikan permintaan dan harga di semua sektor.

 

Anton menjelaskan, penyerapan ruang kantor di CBD selama triwulan II mencapai sekitar 93,400 m2 sehingga total penyerapan untuk semester I 2013 mencapai 213,400 m2, atau naik 35% dibanding semester I tahun lalu. “Penyerapan yang tinggi tersebut mendorong kenaikan harga sewa dalam semester, yang tingkatnya bervariasi antara 14-23%,” kata Anton.

 

“Tren yang sama juga terjadi di perkantoran di luar CBD, dimana tingkat hunian naik menjadi 93%,” kata Angela Wibawa, Project Leasing Jones Lang LaSalle. Menurutnya, Selama triwulan II penyerapan ruang kantor di luar CBD mencapai sekitar 34,800 m2. Hal tersebut mendorong kenaikan harga sewa antara 8-20% sejak awal tahun.

 

Lebih lanjut Angela mengatakan bahwa sejauh ini kenaikan harga sewa di Jakarta Selatan, terutama daerah TB Simatupang masih yang paling tinggi dibanding wilayah lain.

 

Sementara itu di sub sektor kondominium strata, Luke Rowe, Head of Residential menerangkan, penjualan di pasar primer di Jakarta sepanjang triwulan ini mencapai sekitar 4,280 unit, hampir sama dengan triwulan sebelumnya.

 

“Tingginya jumlah penjualan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya permintaan end-user akan hunian vertikal di dalam kota. Karena kota Jakarta telah menuju kota bertaraf internasional,” ucap Luke.

 

“Selain rendahnya suku bunga bank, jumlah proyek baru pun terus bermunculan. Itu juga yang memicu minat investor untuk mengalihkan dananya ke properti,” kata Luke. Menurutnya, selama periode April dan June 2013, jumlah unit yang diluncurkan pengembang mencapai lebih dari 4,000 unit. Diperkirakan tren maraknya peluncuran proyek baru ini masih akan terus berlangsung dalam beberapa triwulan mendatang dan kemungkinan melambat menjelang periode pemilu tahun depan, Luke menerangkan.

 

Lebih lanjut Todd Lauchlan Country Head Jones Lang LaSalle Indonesia mengatakan, bahwa pasar properti di Indonesia masih relatif aman dari dampak kemungkinan crash atau bubble.

 

Menurutnya, situasi saat ini berbeda jauh dibanding pertengahan tahun 1990-an menjelang tahun 1997-1998, dimana saat itu gejolak pasar keuangan dan valas menjadi pemicu krisis yang melebar kepada sektor perbankan dan berujung kepada kredit macet termasuk di properti.

 

Dedy Mulyadi
Foto : Dedy Mulyadi

rumah123.com