Pasar Tradisional Rasa Baru

Big Banner

Modernitas tidak selalu berarti positif. Namun, modernitas juga tidak berarti buruk. Setidaknya, kata “modern” yang kini akrab digunakan dalam istilah “pasar modern” mengandung makna amelioratif bahwa pasar tradisional yang identik dengan kotor, bau, becek, dan tidak teratur diubah menjadi lebih “manusiawi”.
Beberapa pasar seperti Pasar Modern BSD City (Tangerang-Banten), Fresh Market Kota Wisata (Cibubur-Jawa Barat), serta Pasar Segar (di berbagai kota), mengkhususkan diri sebagai pasar modern. Sayangnya, hingga saat ini, pasar modern umumnya dibangun dan dikelola oleh pihak swasta untuk menunjang kebutuhan penghuni satu komunitas (kompleks perumahan) tertentu.
Sementara itu, pasar yang dikelola pemerintah daerah dengan prinsip dan sistem modern bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Pasar Beringharjo di Yogyakarta.
 
Sebenarnya, pihak pengelola pasar daerah tidak tutup mata terhadap “tren” ini. Buktinya, awal Juni lalu, ratusan pedagang dari 37 pasar tradisional Kota Bandung melakukan studi banding ke Pasar Modern BSD City di Tangerang, Banten.
Demikian halnya dengan pengelola Pasar Tanah Abang. Kasubsi Bidang Keuangan Blok G Pasar Tanah Abang, Warno, ketika ditemui Sabtu (10/8/2013) lalu, mengutarakan keinginannya memberikan pelayanan maksimal kepada konsumen. Ia juga mendeskripsikan ciri-ciri pasar modern yang berpotensi diterapkan di Blok G Pasar Tanah Abang.
 Pasar modern tidak hanya dikembangkan di atas lahan luas, lokasi strategis, dan berada di tengah permukiman. Pasar modern juga dilengkapi berbagai fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan konsumennya. Mulai dari kebutuhan pribadi, seperti kamar mandi, mushala, anjungan tunai mandiri (ATM), hingga tempat parkir yang nyaman. Selain itu, pasar modern juga memiliki pembagian ruangan dan peruntukan yang jelas. Konsumen dapat mencari kebutuhan mereka dengan mudah.
 
Pasar Modern BSD City merupakan contoh bagaimana transaksi tawar-menawar lestari dan berpadu harmonis dengan modernitas. Pasar tersebut berada di atas tanah seluas 3,5 hektar. Di dalamnya terdapat 330 lapak, 330 kios, dan 100 ruko. Pasar ini dilengkapi dengan tempat pemotongan ayam, tempat penampungan sampah, instalasi air bersih, dan memiliki lahan parkir luas. Bahkan, pasar ini tidak hanya membagi penggunaan pasar secara tegas dan jelas, tetapi juga memberi amaran agar konsumen bisa segera mencapai tempat yang dituju.
 
Hal yang tidak jauh berbeda terdapat di Pasar Segar yang dikelola BSA Land. Pasar Segar ini tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Balikpapan, Batam, Bandung, Cengkareng, Bekasi, Makassar, Manado, Bintaro, dan Depok. Menurut situs resminya, kelompok Pasar Segar memiliki pusat ATM, tempat ibadah (mushala), eskalator, tempat parkir luas, tempat pemotongan unggas khusus, dan toilet umum.
 
Begitu juga dengan Fresh Market di Kota Wisata. Selain menyediakan bahan-bahan mentah, manajemen Kota Wisata menyatakan dalam situs resminya bahwa mereka juga menyediakan angkutan dalam kawasan yang dapat memudahkan penghuni dan konsumen berbelanja di Fresh Market.
Tak mau kalah dengan pasar-pasar “modern” yang dibangun pihak swasta, pasar tradisional di Yogyakarta bahkan menjadi salah satu daya tarik pariwisata. Pasar tersebut adalah Pasar Beringharjo di kawasan Malioboro. Pasar ini dikenal sebagai pusat batik. Sebenarnya, Pasar Beringharjo di masa lalu juga dikenal sebagai tempat menjual sayur dan buah-buahan. Namun, kini sebagian pedagang sayur dan buah dipindah ke Pasar Induk Sayur dan Buah Giwangan (berlokasi di depan Terminal Giwangan).
 
Didapuk sebagai salah satu pasar terlengkap, Pasar Beringharjo yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) kini bahkan memiliki pusat kesehatan.

Sumber: properti.kompas.com

ideaonline.co.id