Properti Jadi Primadona

Big Banner

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Iklim perekonomian yang diprediksi stabil sepanjang 2013, membuat kalangan investor individu di Indonesia berada di level optimis. Hebatnya, status optimisme tinggi tersebut, berada di atas negara-negara lain di kawasan Asia.

Dua varian yang menjadi incaran investasi masyarakat adalah properti sebagai primadona utama, dan dana tunai alias tabungan. Hal tersebut terungkap pada hasil Manulife Investor Sentiment Index di Asia (Manulife ISI) yang didasarkan pada wawancara 3.500 responden di tujuh pasar Asia.

Manulife ISI yang dipaparkan kemarin, menunjukkan para investor di pasar negara maju di Asia masih merasa kurang percaya saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi, dengan Hong Kong dan Taiwan tercatat sebagai negara yang paling pesimistis.

Namun, hal ini berlawanan dengan tingkat kepercayaan para investor di negara berkembang di Asia seperti Indonesia dan Malaysia serta negara maju seperti Kanada dan Amerika Serikat.

Robert A. Cook, Presiden dan CEO Manulife Asia mengatakan, sudung pandang investasi, tidak ada tempat yang lebih menarik dibandingkan Asia sekarang ini.

Menurut survei, para investor Indonesia merupakan kelompok yang paling optimistis terhadap kondisi investasi dibandingkan dengan kelompok investor lainnya di Asia. Secara keseluruhan nilai indeks Manulife ISI Indonesia adalah +54, lebih tinggi dibandingkan nilai indeks rata-rata regional sebesar +17.

Di level kelas aset lainnya, investor Indonesia paling pesimistis terhadap saham dan ekuitas dengan nilai indeks -8 karena mereka masih mengandalkan dana tunai atau properti sebagai instrumen investasi mereka.

Alasan utama penyebab para investor Indonesia percaya bahwa saat ini merupakan waktu yang kurang baik untuk berinvestasi di saham/ekuitas adalah pasarnya yang tidak stabil dan keyakinan bahwa investasi lainnya dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi.

Ini berarti, para investor di Indonesia lebih memilih instrumen investasi yang berisiko lebih rendah dan memiliki pengetahuan yang minim mengenai saham/ekuitas.

Berdasarkan laporan tersebut ada kesenjangan antara optimisme investor terhadap tujuan keuangan dan pensiun dengan perilaku investasi. Kesadaran investor terhadap investasi tinggi namun membutuhkan langkah yang konkret dan bimbingan lebih lanjut tentang cara memanfaatkan produk investasi untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

“Kami merekomendasikan para investor untuk mempertimbangkan instrumen investasi selain dana tunai dan properti yang dapat memberikan keuntungan lebih tinggi dan dapat memenuhi tujuan keuangan mereka,” sebut kata Chris Bendl CEO & Presiden Director Manulife Indonesia.

Di sisi lain, Bendl berharap masyarakat harus menyadari dana yang mereka tempatkan di rekening tabungan berbunga rendah pada akhirnya akan tergerus inflasi. Ada kebutuhan untuk memobilisasi tabungan secara lebih efisien dengan instrumen investasi lainnya.

Berdasarkan sejarah, dalam jangka panjang, tingkat pengembalian investasi dari reksa dana yang berkaitan dengan pasar saham, seperti misalnya reksa dana saham, telah terbukti bisa memberikan imbal hasil yang mampu mengalahkan lajunya inflasi.

“Sehingga, reksa dana merupakan alternatif investasi yang dapat memenuhi kebutuhan para investor,” kata Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur PT Manulife Aset

Beberapa rencana prioritas pensiun mereka adalah untuk kesehatan (45 persen), membiayai standar hidup mereka (39 persen), dan terus mendukung pendidikan anak-anak mereka (36 persen). Namun sebagian besar investor mengandalkan tabungan (50 persen), pendapatan usaha dari investasi properti (17 persen) dan kontribusi dari anak-anak/cucu mereka (13 persen) untuk pendapatan pensiun mereka. Hanya 9 persen dari pendapatan pensiun berasal dari dana pensiun.

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me