Properti Medan Tetap Tumbuh

Big Banner

Tomi Wistan : Saya berencana membangun 1.000 unit rumah di bawah harga yang diterapkan Pemerintah.

 

 

Maraknya bisnis properti di Medan merupakan peran aktif anggota REI Sumatera Utara. Meski bertolak belakang dengan kebijakan Pemerintah, developer lokal tetap antusias membangun rumah

 

Jika melihat laju pertumbuhan ekonomi secara global, provinsi Sumatera Utara termasuk wilayah dengan pendapatan daerah di atas rata-rata perekonomian nasional. Bahkan persentase pertumbuhannya di tahun 2010-2011 lalu mencapai 6,73%. Wilayahnya sendiri, tak hanya menjadi pusat perekonomian bagi masyarakat Sumatera utara, tapi juga bagi provinsi di sekitarnya.

 

Tomi Wistan, Ketua DPD REI Sumatera Utara mengatakan, Salah satu sektor yang mampu mendongkrak laju perekonomiannya adalah sektor properti. Hingga 2010 lalu, geliat bisnis propertinya didominasi oleh segmentasi landed house.

 

Sedangkan segmentasi hunian vertikal mulai berkembang dan bergairah di wilayah Medan pada tahun 2011. Bahkan, nilai penyaluran untuk kredit apartemen menengah atas juga terus mengalami peningkatan yang baik hingga saat ini.

 

“Begitupun kebutuhan properti bagi kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Di Sumatera Utara sendiri, produksi rumah untuk kelas MBR di tahun 2010 telah mencapai 200-300 ribu unit,” kata Tomi.

 

“Lewat kerja keras dari anggota REI di tahun 2011, REI Sumut telah memproduksi sekitar 5.000 unit rumah. Untuk tahun ini, kami targetkan membangun sebanyak dua kali lipat,” terangkan Tomi yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin Sergai, Sumatera Utara.

 

Peran aktif anggota REI di Sumut jadi kekuatan untuk terus memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat Medan. Tomi pun membentuk komisaris di daerah, dengan harapan pertumbuhan properti dapat melesat cepat.

 

Tapi kenyataannya berbeda, tersendatnya penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Pembangunan (FLPP) serta kebijakan Pemerintah yang dirasa belum sesuai, menyebabkan melemahnya gejolak bisnis properti di Medan.

 

“Lebih baik membangun rumah kelas menengah daripada kelas MBR, meski potensi daya beli pasar properti kelas tersebut cukup tinggi,” akui Tomi. Meski kenyataannya demikian, Tomi berencana membangun 1.000 unit rumah di bawah harga yang diterapkan Pemerintah.

 

“Saya ingin membangun kampung halaman saya sendiri. Jadi tidak ada lagi melihat keuntungan, karena saya menanamkan kecintaan terhadap daerah asal. Ini saya anggap menjual lahannya saja,” ucapnya tersenyum.

 

Dedy Mulyadi,

Foto : Istimewa

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me