Laju Lokomotif Ekonomi Indonesia Di Tangan REI Dan Pemerintah

Big Banner

Bersama pemerintah, permasalahan yang dialami pengembang daerah dan pusat, coba dibahas dan diuraikan untuk menemukan solusi terbaik. Agar industri realestat yang diumpamakan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional dapat diimplementasikan kepada semua pihak

 

Developer yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) terus berupaya bersinergi bersama Pemerintah Propinsi dan Kabupaten atau Kota di seluruh wilayah Indonesia. Tujuannya tak lain adalah untuk menyusun konsep awal pengembangan kota baru, guna mendukung program nasional Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

 

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengatakan, konsep pengembangan kota baru hendaknya dilengkapi data terkait kesiapan lahan dan rencana pengadaan tanah, target besaran pengembangan, kondisi infrastruktur yang ada saat ini, visi misi dan konsep yang akan dituju, serta kedudukan strategi lokasi khususnya dikaitkan dengan MP3I. “Dalam waktu dekat kerjasama ini akan diwujudkan dengan pembangunan kota baru Maja yang terletak di wilayah barat Jabodetabek, serta telah ditetapkan sebagai salah satu kota pendukung MP3EI,” tambah Menpera.

 

Sementara itu, Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan, bisnis properti mampu memberikan sumbangan sekitar 9,4% pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang tahun 2010. PDB Indonesia selama tahun 2010 tercatat sebesar Rp 6.419 triliun, sedangkan pada akhir kuartal ke 2 tahun 2011 PDB Indonesia tercatat sebanyak Rp1.811 triliun. “Dalam dua atau tiga dekade terakhir, industri properti memiliki peran yang semakin besar terhadap perekonomian di Indonesia. Untuk Nilai pengeluaran sektor perumahan berkontribusi sekitar 28% pada kuartal empat 2011,” tambah Setyo Maharso.

 

Guna melanjutkan pembangunan yang lebih baik. Sebagai pemangku kepentingan, Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) mengharapkan banyak masukan untuk mendorong kebijakan-kebijakan, terlebih lagi untuk usaha real estate khususnya dan percepatan realisasi pembangunan perumahan di seluruh Indonesia. Untuk memantapkan arah tujuan dan langkah pasti, REI butuh dukungan Pemerintah memajukan sektor perumahan agar dapat berkembang lebih besar. Sekaligus menjadikan industri ini sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Setyo mengungkapkan, nilai kontribusi sektor perumahan sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan sektor transportasi dan automotive. “Kami menyimpulkan bahwa, peranan dan kontribusi sektor perumahan di Indonesia ternyata pertumbuhan ekonomi cukup tinggi,” ucap Setyo. Adanya pertumbuhan properti dan semangat membangun diberbagai daerah, menjadi tantangan agar lokomotif REI semakin laju. Pertumbuhan ekonomi nasional berkembang cepat sesuai dengan yang diharapkan. Semakin banyak tantangan yang menghadang, salah satunya adalah undang-undang no.1 tahun 2011, kemudian undang-undang PTATK no.8 tahun 2010.

 

“Per tanggal 20 Maret 2012 nanti, jika developer menjual properti diatas 500 juta, kita harus melaporkan dalam waktu 14 hari kepada PTATK. Jika tidak melaporkan, maka developer akan terkena sanksi pidana 2 tahun penjara dan 1 miliar denda,” tegasnya. Terlepas dari itu, untuk dapat berkembang dengan cepat, REI juga telah mendapat dukungan yang kuat dari perbankan nasional sebagai mitra kerja dalam hal pembiayaan perumahan di seluruh Indonesia. “Semoga ditahun mendatang, kami dapat membangun perumahan lebih banyak lagi untuk masyarakat Indonesia. Karena kami sadar bahwa, kekurangan perumahan hampir diangka 13,6 juta unit rumah,” terangkannya.

 

Lebih lanjut Setyo berkata, angka tersebut akan terus kami penuhi. Kami berharap REI dapat melaksanakan program-program baru yang mendukung kemajuan pembangunan perumahan dan permukiman di seluruh Indonesia. Dengan demikian, hasilnya dapat digunakan oleh kementrian perumahan rakyat untuk memberikan regulasi-regulasi terutama menyangkut rusunami.

 

Naskah dan foto : Dedy Mulyadi

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me