REI Akan Soroti Tiga Persoalan Krusial Di Rakernas

Big Banner

Tiga persoalan itu terkait soal kewajiban pelaporan transaksi penjualan yang bernilai di atas Rp500 juta kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), beban pajak berganda dan kesulitan pembebasan lahan

Wakil Ketum DPP REI Reddy Hartadji mengatakan, tiga masalah itu menjadi masalah krusial yang menghambat kegiatan usaha di bidang properti yang belum mendapatkan penyelesaian sejak lama. “Tiga masalah ini akan dibahas bersama dengan pengembang dari 33 provinsi dan pemerintah. Ini seperti benang kusut yang tidak selesai-selesai hingga kini,” ujarnya.

 

Asosiasi pengembang properti tertua di Indonesia yang membawahi 2.661 perusahaan pengembang itu, menggelar Rakernas di Jakarta dengan menghadirkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Memperind MS Hidayat, Menpera Djan Faridz, Ketua PPATK, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto dan sejumlah kepala daerah.

 

Menurut Reddy, Rakernas berupaya mendapatkan konsensus untuk menjadi jalan keluar dari tiga hambatan utama itu, agar bisa mendorong sektor perumahan dapat bergerak lebih cepat untuk menopang perekonomian nasional. Reddy menuturkan, industri properti merasa mengalami diskriminasi soal perlakuan wajib lapor transaksi bernilai di atas Rp500 juta yang diwajibkan secara khusus.

 

“Kenapa cuma transaksi penjualan properti. Kenapa penjualan mobil mewah, logam mulia dan beberapa barang lain yang juga bisa mencapai miliaran nilainya per transaksi tidak diwajibkan serupa itu? Ini yang ingin kami bawa dalam Rakernas,” katanya lagi. Soal pajak berganda, lanjutnya, juga menjadi persoalan rumit karena menjadi beban biaya yang memberatkan harga penjualan. Dia memberi contoh proyek rusunami dan rumah sederhana yang harus menanggung biaya tinggi karena pajak berganda, tapi harga jualnya tidak boleh mahal.

 

Reddy yang juga Ketua Dewan Pengarah Rakernas itu, mengatakan temuan terbaru dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Indonesia menunjukan kontribusi industri properti dan kontruksi terhadap PDB nasional ternyata sudah menyentuh ke angka 9,4%. Menurut dia, temuan tersebut sangat mengejutkan karena data BPS yang dipakai selama ini hanya menempatkan kontribusi sektor properti dan konstruksi pada kisaran 3,2% dan data itu sudah lama dijadikan sebagai referensi dalam data perekonomian nasional.

 

Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan, temuan oleh peneliti dari UI itu akan dikonfrontasikan dengan pihak Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk mendapatkan data yang mutakhir.

 

“REI minggu ini diundang oleh Bank Indonesia. Kami akan sampaikan data soal 9,4% itu agar bisa sinkron dengan data yang ada. Ini memang mengembirakan  bagi sektor properti karena menunjukan peningkatkan kontribusi bagi perekonomian nasional,” ungkap Setyo. Menurut dia, Rakernas yang akan digelar pada akhir bulan ini mengambil tema,”Industri Realestat Menjadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Nasional.”

 

Sumber bisnis.com, foto : Istimewa

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me