Bisnis Properti Hingga 2012 Terus Meningkat

Big Banner

Menguatnya perekonomian dan meningkatnya daya beli masyarakat, memberi indikasi positif. Terutama dari sisi supply, karena bisnis properti terus mengikuti demand terutama sektor perumahan, kondominium dan perkantoran, ruko dan rukan

 


Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 mencapai 4,5% atau turun sebesar 1,6% dari tahun 2008. Kondisi pertumbuhan ekonomi makro yang membaik mulai semester pertama 2010 ditandai dengan meningkatnya PDB semester pertama yang mencapai 5,8%. Hal ini tampak pada mulai menguatnya ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat. Berdasarkan indikator ekonomi di atas, analis memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan bisa mencapai 5,5% – 6,0%. Peningkatan pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh meningkatnya nilai ekspor dan derasnya arus investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang awal tahun 2010.

 

Iklim investasi yang semakin kondusif di Indonesia pada tahun 2010 merupakan salah satu faktor pendukung lainnya. Berdasarkan indikator tersebut, Analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan akan mencapai 6,0 – 6,4% dan tingkat inflasi diperkirakan sebesar 6%, BI Rate sebesar 6,5% dan kurs rupiah terhadap dollar diperkirakan akan stabil pada Rp 9.000 s/d Rp 9.500. Selama lima tahun terakhir (2005-2009) laju pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dan tumbuh positif dengan pertumbuhan rata-rata 5,5%. Indonesia dipandang sebagai salah satu dari 3 negara di kawasan Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif menjadi salah satu negara di Asia yang sangat diperhitungkan, setelah China dan India.

Laju pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik tersebut tentu saja gambaran dari membaiknya perindustrian nasional dalam hal ini, termasuk sektor properti. Dapat kita lihat pengembangan properti di Indonesia yang mulai menggeliat sejak tahun 2002 hingga tahun 2007. Sebagian besar merupakan proyek-proyek skala besar seperti Superblok. Beberapa superblok yang dibangun di Jakarta seperti Epicentrum Rasuna, Podomoro City, Season City, St. Moritz, Kemang Village, Gandaria Man Street, Kuningan City, CBD Pluit, Ciputra World, St. Regis, Grand Bay Pluit dan Kota Kasabalanca. Di Surabaya terdapat City Of Tomorrow dan Waterplace Pakuwon, di Medan ada Deli Grand City,

Sedangkan di Batam ada Imperium Batam Island dan Nagoya Hill Batam. Makassar ada GTC Makassar dan Trans Kalla mixed-use development, di Kalimantan ada Samarinda Global City, dan Solo Jawa Tengah ada Solo Paragon. Selain pengembangan superblok ini, pengembangan dan pembangunan, Perumahan, perkantoran, apartemen, Hotel dan Pusat Perbelanjaan baru juga tumbuh cepat di kota-kota Besar. Namun, dua tahun terakhir sejak akhir tahun 2008, bisnis properti mulai sedikit akibat terjadinya krisis finansial dunia (krisis global) yang sangat mempengaruhi kinerja para pengembang dimana. Setelah dua tahun krisis ekonomi global berlangsung, bisnis properti masih berjalan lambat.

Bagaimana prospek bisnis properti tiga tahun ke depan, akan diprediksikan dalam bahasan berikut. Berdasarkan pengalaman pasar properti di Indonesia dapat dibagi dalam 4 musim, yang terdiri  dari soft market (equilibrium ), seller’s market, weak market (oversupply ) dan buyer’s market.   Keempat musim ini mempunyai karakteristik kondisi tersendiri yang dapat digambarkan sebagai berikut Berdasarkan indikator makro ekonomi dan property market clock di atas, kondisi pasar properti pada saat ini dan prediksi ke depan adalah sebagai berikut:

 

• Kondisi industri properti pada tahun 2010 ini merupakan “fase awal” dari   tahapan growth pada Industri Properti di Indonesia (Soft Market).

 

• Kondisi tahun 2010-2013 merupakan timing  yang tepat bagi konsumen maupun investor untuk membeli dan berinvestasi di sektor properti (seller market).

 

• Pada tahun 2014 – 2015 merupakan “fase booming properti” dimana harga properti mulai mengalami stagnasi dan ini akan menjadi booming properti kedua sejak pasca krisis 1998.

Dengan pertimbangan di atas dari sisi demand, analis memprediksi bisnis properti dari tahun 2010-2013 akan terus menunjukkan peningkatan. Sedangkan dari sisi supply, bisnis properti akan mengikut demand terutama sektor perumahan, perhotelan, kondominium dan perkantoran, ruko dan rukan. Dari pengalaman di lapangan siklus properti pada umumnya bergerak naik turun pada kurun waktu 5-7 tahun. Merujuk pada siklus tersebut, analis memperkirakan bahwa pada tahun 2010 hingga tahun 2013, merupakan saat yang tepat bagi para pelaku bisnis untuk memasuki pasar properti. Termasuk perbankan yang mendanai dan menyalurkan kredit properti, baik KPR dan kredit konstruksi.

Sumber data, Panangian School of Property (PSP)

rumah123.com