Industri Properti Masih Jauh Dari Ancaman Bubble

Big Banner

Pasar properti Indonesia masih aman dari ancaman penggelembungan nilai aset (bubble). Selain fundamental ekonomi Indonesia kuat, permintaan terhadap properti sangat riil dan berasal dari pengguna akhir (end user). Apalagi hingga kini, Indonesia masih kekurangan pasokan hunian dan infrastruktur, sehingga pasar properti masih sangat besar.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Setyo Maharso kepada sejumlah wartawan di hotel Santika Jakarta, beberapa waktu lalu. Maharso menjelaskan, kontribusi sektor properti Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih tergolong kecil. Dengan demikian, sektor ini masih memiliki peluang untuk berkembang dan tidak akan bubble seperti di Amerika Serikat.

Sesuai data Badan Pusat Statistik, saat ini pasar perumahan nasional bahkan masih kekurangan suplai (backlog) sebanyak 13,6 juta unit rumah. “Kami tidak yakin Indonesia akan mengalami bubble property. Dasarnya apa? Jika ada pihak yang mengatakan hal demikian maka kami justru akan mempertanyakan hal itu mereka dapat data dari mana,” ujarnya.

 

Jika harga rumah mengalami kenaikan hal itu wajar. Karena rumah merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat.  Kenaikan yang terjadi selama ini selain karena permintaan pasar, tetapi juga karena peran pemerintah. “ Sebetulnya yang membuat harga properti naik adalah pemerintah sendiri. Pemerintah  yang mengatur kenaikan harga lahan melalui nilai jual objek pajak (NJOP) yang dinaikkan tiap enam bulan dan satu tahun sekali,” jelasnya. Walapun demikian, Maharso, mengingatkan tidak perlu kuatir dengan harga unit-unit properti, baik residensial maupun komersial, yang kini telah mencapai miliaran di kawasan perkotaan. Karena hal itu ternyata juga dapat diserap oleh masyarakat, baik untuk ditempati atau dijadikan investasi.

 

“Ini menandakan pasar mampu membeli di harga tersebut Unit properti itu tidak disekuritisasi, tetapi untuk dipakai sendiri. Ini berbeda dengan subprime di Amerika,” ungkapnya. Maharso menambahkan, pemberian kredit properti oleh perbankan. Papar dia juga tergolong kecil yakni 13% dari total kredit perbankan yang mencapai Rp 1.889 triliun. Kondisi ini berbeda saat sebelum krisis ekonomi 1997/1998, yang porsi kredit propertinya mencapai 48%. “Dengan demikian, indikator terjadinya bubble dari sisi kredit terbantahkan,” kata Setyo.

 

Saat ini perbankan amat selektif dalam memberikan kredit properti untuk mengantisipasi terjadinya kredit macet seperti yang terjadi tahun 1997/1998 dan 2008. Menurut dia, kondisi ekonomi yang kuat saat ini justru membuat industri properti lebih berkembang.

Dedy Mulyadi

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me