Pasar Rumah Tinggal Tetap Tumbuh di Tahun 2010

Big Banner
JAKARTA—123 News: Permintaan di pasar properti rumah tinggal di tahun 2010 diprediksi tetap tinggi, terutama untuk segmen mid-mid dan mid-low. Hal itu terutama diakibatkan turunnya tingkat suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) ke kisaran 10%-12% di tahun tersebut. Ketua Bidang Standar dan Kepatuhan Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi), Rengganis Kartomo, mengatakan hal tersebut dalam satu seminar di Jakarta belum lama ini.

Rengganis mengatakan, terkait efek krisis ekonomi global, tingkat penyaluran KPR memang sempat lesu sejak kuartal ketiga tahun 2008. Namun, di kuartal pertama tahun 2009, penyaluran tersebut mulai pulih dengan rata-rata pertumbuhan 8,6% sampai kuartal ketiga tahun 2009.

Selanjutnya, ia mengatakan, di tahun 2010 kesenjangan antara tingkat pasokan rumah tinggal dengan tingkat permintaan pasar masih sangat besar. Hal itu disebabkan besarnya jumlah populasi di Indonesia.

Di tahun 2010, properti rumah tinggal tetap menjadi salah satu pilihan investasi populer. Adapun investasi populer yang lain, ia menambahkan, adalah menanamkan dana di pasar uang, pasar modal, dan deposito perbankan.

Segmen properti rumah tinggal mana yang paling banyak dikembangkan di tahun 2010? Rengganis memprediksi bahwa mayoritas pengembang akan memfokuskan diri membangun rumah tinggal berukuran kecil dan menengah. “Di pasar, tipe rumah seperti itulah yang banyak menarik peminat,” ia berkata.

Harga Kondominium Naik

Rengganis menjelaskan pula bahwa di tahun 2010, tingkat penyerapan di pasar kondominium akan berkisar 72%-75%. Angka tersebut terkait beberapa faktor. Pertama, dalam tiga tahun mendatang, jumlah pasokan baru mencapai 14.626 unit. Kedua, permintaan pasar cenderung lemah-stabil terkait efek krisis ekonomi global.

Penjelasan dia, setelah menikmati kenaikan harga sebesar 15%-17% di tahun 2006 dan 2007, pasar kondominium telah mendapatkan koreksi pasar. Alhasil, di tahun 2008, harga tersebut hanya naik 5%-6%. “Diperkirakan bahwa kini harga rata-rata senilai Rp11,8 juta per m2. Dan akan naik dengan kisaran 7%-10%.”

Perihal yield sewa, ia memprediksi adanya penurunan. Di sini, untuk kondominium di CBD (central business district), yield di angka 10,5%. Untuk kondominium di area non-CBD, yield akan berada di angka 8,5%. “Tahun 2010,” kata Rengganis, “permintaan terutama datang untuk kondominium ukuran kecil dan menengah dengan harga rata-rata di bawah Rp700 juta.” DHIT/FOTO: M. REIZA

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me