SUKU BUNGA PINJAMAN : Bunga KPR (Masih) Enggan Turun

Big Banner

Penurunan BI Rate yang signifikan beberapa bulan terakhir belum diikuti oleh penurunan suku bunga KPR. Lagi-lagi cost of fund yang jadi kambing hitam.

Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate pada posisi 7,25 persen pada awal Mei lalu. Sehingga, terhitung sejak awal 2009 lalu BI telah menurunkan BI Rate sebesar 200 basis poin. Pemerintah menurunkan suku bunga acuan ini untuk memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi nasional.  Penurunan BI Rate yang cukup signifikan ini diikuti oleh penurunan bunga deposito dan pinjaman. Akan tetapi di sisi lain, penurunan bunga ini belum diikuti oleh penurunan bunga kredit seperti KPR atau KPA yang rata-rata masih bertengger di posisi 13 – 15 persen.

Kendati banyak dikritik sejumlah pihak, termasuk Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Gultom belum lama ini, namun perbankan tetap tak  bergeming. Alasannya, mereka harus berhati-hati terhadap perubahan ekonomi yang dapat terjadi secara drastis. Selain itu, faktor cost of fund (biaya dana) juga dijadikan alasan mengapa suku bunga KPR belum turun mengikuti tren turunnya suku bunga acuan BI Rate.  

Bagaimanapun, penurunan BI Rate diharapkan dapat semakin meningkatkan permintaan di sektor properti, terutama perumahan dan kondominium. Selain itu, pemilihan umum legislatif yang berjalan relatif lancar diharapkan mampu mengundang sentimen positif di pasar, optimisme pembeli, baik end-user maupun investor.   

Tiga Segmen
Kendati Indonesia masih dalam masa krisis finansial, namun ada beberapa segmen konsumen properti yang tidak terpengaruh ekses krisis saat ini. Manurut Ketua Umum DPP REI, Teguh Satria, jika kita berbicara seputar pasar perumahan terkait masa krisis seperti sekarang, segmennya harus dibagi tiga.

Segmen pertama, hunian bersubsidi. Untuk rumah sederhana sehat (RSh) harganya Rp55 juta, sementara untuk rusunami harganya Rp144 juta. Segmen hunian bersubsidi ini, relatif tidak terpengaruh krisis. Pasalnya, krisis finansial “hanya” meningkatkan suku bunga. “Jadi untuk properti bersubsidi, berapapun bunganya, tetap akan disubsidi pemerintah, sehingga suku bunga yang harus dibayar konsumen tetap,” kata Teguh. Sebagai contoh, bunga untuk RSh 4,5 persen – 7 persen, sementara untuk rusunami 9,8 persen.

Segmen kedua adalah segmen hunian kelas atas dengan harga lebih dari Rp2 miliar. “Segmen ini tidak terganggu krisis, karena mereka adalah orang yang punya uang banyak dan tidak terpengaruh bunga pasar,” kata Teguh.

Segmen yang terganggu krisis finansial adalah segmen pasar yang banyak menggunakan KPR. Inilah segmen ketiga. Yang masuk segmen ini adalah  hunian dengan harga Rp150 – Rp500 juta (segmen menengah-bawah) dan segmen hunian dengan harga Rp500 – Rp1 miliar (segmen menengah – menengah). Di segmen ini sekitar 70 persen menggunakan pembiayaan KPR. Segmen inilah yang menurut Teguh, selama periode Februari – Maret 2009 terganggu, dengan mengalami penurunan penjualan sekitar 30 persen.

Bunga KPR Belum Ideal
Teguh Satria mengatakan, saat ini masih terjadi ketimpangan antara BI Rate dengan suku bunga KPR/KPA. Idealnya suku bunga KPR/KPA berkisar 4 persen di atas suku bunga acuan BI Rate. Jadi dengan BI Rate yang turun sampai 7,25 persen, maka suku bunga KPR yang paling ideal untuk bisnis properti sekitar 11 – 12 persen. Menanggapi lambatnya penurunan suku bunga KPR oleh pihak perbankan, Teguh memperkirakan penyesuaian suku bunga pinjaman akan terjadi pada awal semester 2 tahun 2009. Dirinya mengharapkan sekitar bulan Juli, bunga KPR akan mendekati angka ideal dan akan mencapai angka ideal pada akhir tahun.  “Dengan demikian, pada semester dua akan terjadi peningkatan grafik penjualan,” ujar Teguh.

Saat ditanya, apakah bangkitnya pasar properti menunggu pemilihan presiden, Teguh mengatakan hal tersebut tidak ada hubungannya. “Menurut saya, masyarakat sudah jenuh dengan politik. Mereka tidak menunggu pemilu atau pilpres, tetapi menunggu suku bunga turun,” tandasnya.

Di lain pihak, Kepala Divisi Konsultasi dan Riset Knight Frank Indonesia, Fakky Ismail Hidayat menyatakan, lambatnya suku bunga KPR menyesuaikan BI Rate disebabkan tingginya angka NPL (non performing loan alias kredit macet) belakangan ini akibat krisis yang menggerogoti daya beli konsumen. “Selain itu, suhu politik yang menghangat belakangan ini juga membuat pihak bank berhati-hati mengambil keputusan menurunkan suku bunga KPR,” urai Fakky.  Akan tetapi, senada dengan Teguh, Fakky melihat suku bunga KPR akan membaik di semester kedua 2009 nanti, yang tentu saja akan membuat bisnis properti dalam negeri makin bergairah. ANTO ERAWAN/Foto : REIZA, DEDY MULYADI.

Foto : 1. PERUMAHAN  : Hunian Bersubsidi dan Mewah Tidak Terimbas Krisis
          2. GEDUNG BANK INDONESIA : Turunnya BI Rate Hingga 200 bps Belum Diikuti Turunnya Bunga KPR

rumah123.com