Beda, Profil Konsumen Properti di Utara, Selatan, dan Pinggiran Jakarta!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Profil pembeli properti, rumah dan komersial, di wilayah utara, selatan, dan pinggiran Jakarta sangat berbeda. Kendati ada dua kelompok utama, yakni investor dan pengguna akhir (end user), peta konsumen di tiga wilayah tersebut sangat unik dan bertolak belakang.

Menurut Marketing Manager Graha Raya, Ellis Astuti, pembeli properti, khususnya rumah, di selatan Jakarta adalah mereka yang sebelumnya tinggal di wilayah yang sama. Pengguna akhir mendominasi ketimbang investor, komposisinya sekitar 90:10.

“Pembeli produk Graha Raya, misalnya, adalah mereka yang pernah membeli rumah di Pondok Indah, atau Bintaro Jaya. Mereka membeli rumah di sini untuk anak atau cucunya dengan motivasi mendekatkan seluruh keluarga. Mereka sebagian besar merupakan profesional, pengusaha, dan karyawan kerah putih (white collar),” papar Ellis kepada Kompas.com, Sabtu (27/9/2014).

Sementara profil pembeli properti komersial (ruko), kata Ellis, justru didominasi oleh konsumen asal utara Jakarta, seperti Pantai Indah Kapuk, Pluit, dan Kelapa Gading. Mereka adalah investor yang juga pebisnis, membeli secara kontan dan kontan bertahap.

Graha Raya sendiri merupakan kompleks perumahan terpadu skala kota yang dibangun PT Jaya Real Property Tbk seluas 350 hektar di Serpong, Tangerang Selatan. Klaster terbarunya adalah Fortune Teracce seluas 40 hektar dengan tawaran rumah 215 unit yang dilengkapi fasilitas ruko.

Lain lagi dengan profil pembeli rumah dan ruko di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Menurut Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P Adhi, komposisi pembeli pengguna akhir dan investor adalah 70:30.

“Produk kami sangat diminati baik oleh end user maupun investor. Dengan komposisi semacam ini, nilai properti, baik rumah maupun komersial rukonya terus tumbuh positif. Ini dibuktikan oleh ruko The Kensington dan Grand Orchard,” ujar Adrianto, Rabu (10/9/2014).

Harga perdana Grand Orchard saat dilansir lima tahun lalu sekitar Rp 1,5 miliar sampai Rp 2 miliar. Saat ini harga di pasar sekunder termurah sekitar  Rp 4,5 miliar. Sedangkan ruko The Kensington yang dijual dengan mekanisme lelang untuk unit-unit terakhir mampu mencapai angka fantastis, yakni Rp 38 miliar per unit.

Lain lagi dengan profil pembeli rumah di Paramount Serpong. Presiden Direktur PT Paramount Enterprise International, Ervan Adi Nugroho, mengungkapkan, telah terjadi pergeseran peminat properti di kawasan ini (Serpong bagian utara).

“Jika sebelumnya dikuasai investor sebanyak 50 persen dan separuhnya end user keluarga mapan, kini kalangan muda, baik profesional muda, pengusaha muda maupun pasangan muda sangat antusias membeli produk kami,” kata Ervan, usai peluncuran La Bella @ Arcadia Village, Rabu (17/9/2014).

La Bella @Arcadia Village, contohnya. Klaster teranyar Paramount Enterprise ini langsung terserap pasar oleh kalangan muda. Masyarakat di segmen ini, kata Ervan, didominasi oleh keluarga muda yang memiliki satu atau dua anak kecil. Untuk harga jual, kalangan usia produktif ini memiliki kemampuan pada rentang harga rumah antara Rp 750 juta sampai Rp 1,5 miliar. Lebih dari itu, mereka belum mampu.

“Untuk itulah kami membuka produk yang fokus pada kebutuhan mereka. Selain secara demografi jumlahnya paling banyak, pembeli segmen ini tidak membutuhkan ruang-ruang yang besar. Dalam hal pembiayaan pun, mereka cenderung membeli dengan memanfaatkan fasilitas KPR,” pungkas Ervan.

properti.kompas.com