Dafam Group Bidik 38 Hotel Baru

Jakarta – Dafam Group terus mengepakkan sayap bisnis hotel. Saat ini, kelompok usaha tersebut sedang merampungkan pembangunan 23 hotel serta menjajaki kerja sama pembangunan 15 hotel lainnya.

“Investasi tiap hotel berbeda-beda. Rata-rata investasi hotel kami untuk yang bintang tiga berkisar Rp 70-80 miliar, sedangkan untuk yang bintang empat di atas Rp 100 miliar. Investasi itu belum termasuk pengadaan tanah,” papar Corporate PR Manager Dafam Hotels Ninik Haryanti, saat dihubungi dari Jakarta, baru-baru ini.

Total investasi pengembangan bisnis hotel Dafam itu ditaksir lebih dari Rp 1 triliun. Saat ini, Dafam sudah memiliki 14 hotel yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Bila ke-38 tambahan hotel itu rampung, total hotel yang dimiliki kelompok ini sebanyak 52 hotel.

Menurut Ninik, pihaknya terus mengembangkan bisnis penginapan karena iklim usaha di sektor tersebut masih cukup menjanjikan. Bisnis perhotelan bersifat jangka panjang dan masih cukup bagus selama orang masih melakukan perjalanan dinas, perjalanan bisnis, hingga perjalanan wisata. Kesemua itu, tambahnya, membutuhkan penginapan.

“Break even point (BEP) rata-rata berkisar 5-6 tahun untuk hotel bintang empat, sedangkan untuk hotel budget sekitar 4 tahun dengan catatan tingkat okupansi sekitar 80 persen,” jelasnya.

Optimisme dalam menggarap bisnis hotel, kata dia, juga harus diimbangi dengan kemampuan manajemen hotel untuk selalu berinovasi. Selain menyajikan bangunan dan desain interior serta pelayanan yang nyaman, para manajemen hotel juga harus kreatif.

“Bagi Dafam, setiap hotel harus mampu mengoptimalkan corporate culture responbility. Misal, di Cilacap, Jawa Tengah, kami membuat wisata Nusakambangan Pagkage. Paket itu sesuatu yang baru dan membuat orang menjadi tertarik,” kata Ninik.

Langkah serupa juga dilakukan Dafam di kota-kota tempat hotelnya berdiri. Ninik mencontohkan lagi apa yang dilakukan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kota yang terkenal dengan pasar apungnya itu dibuatkan paket kunjungan ke pasar apung.

“Begitu juga di Subang yang terkenal dengan penghasil nanas, kami bantu UKM disana untuk memasarkan nanas dan turunannya untuk dijajakan di jaringan hotel Dafam,” tambahnya.

Investor Daily

Penulis: EDO/FER

Sumber:Investor Daily

beritasatu.com