Taman Fantastis Pemikat Dunia

Big Banner

Singapura – Bukan pemandangan biasa bagi wisatawan saat menyaksikan taman tropis di jendela hotel di perkotaan Singapura. Mereka semakin tidak terbiasa ketika pemandangan tersebut muncul di hotel – hotel dengan ketinggian sepuluh lantai. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka saat Hotel Park Royal di Kota Pickering menampilkan kebun yang merambat ke dinding dan jendela hotel.

Dikonsep oleh arsitek berbasis di Singapura, WOHA, taman fantastis tersebut telah memikat perhatian dunia arsitektur serta industri bangunan hijau. Inhabitat.com baru-baru ini berkesempatan untuk memeriksa fitur hijau yang unik tersebut sebagai bagian dari Konferensi Internasional Green Building 2013, yang diselenggarakan oleh Building and Construction Authority Singapura (BCA).

Taman vertikal tersebut menjadikan Park Royal sebagai ‘penghias’ mata, dengan vegetasi kaca terbungkus beton bertulang, yang menghasilkan fasad yang cantik. Bangunan ini mendapat status Mark Platinum pada t2012 oleh Building Construction Authority Singapura (BCA) untuk desain penghematan energi dan air.

Status tersebut diberikan setelah memperhatikan aspek pencahayaan, lorong-lorong berventilasi alami, daur ulang di kamar serta seluruh hotel, sistem hemat energi chiller, sistem ventilasi berbasis permintaan, penggunaan LED dan lampu fluorescent. Selain itu, juga mempertimbangkan aspek optimalisasi penerangan tengah hari. sel surya di atap, serta penggunaan teknologi Cobiax (pemakaian plastik daur ulang untuk mengurangi penggunaan beton).

Dedaunan di tubuh bangunan juga bekerja untuk menyerap panas dan menjaga dinding tetap dingin, dimana telah menjadi keharusan untuk iklim tropis seperti Singapura. Lalu, berapa banyak energi dan air ekstra untuk menjaga semua tanaman? Jawaban, tidak ada.

“Semua limpasan air hujan permukaan disalurkan ke tangki greywater untuk mengairi semua kebun, dan mereka disiram oleh irigasi gravitasi-driven,” kata Bernard Lee, seorang arsitek yang merupakan bagian dari tim proyek Park Royal WOHA. Dia melanjutkan, pihaknya juga memiliki sel surya di atap untuk menyediakan energi.

“Kami menggunakan tanaman hijau vertikal untuk mengganti semua tanaman hijau yang hilang,” ujar dia. Hasilnya, dedaunan penutup mencapai lebih dari 200 persen dari total luas bangunan.

Penulis: PAM/FER

Sumber: Inhabitat

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me