September, BCA Turunkan Bunga KPR dan Deposito

Big Banner

Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berencana untuk menurunkan suku bunga atas kredit pemilikan rumah (KPR) dan deposito pada September mendatang.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, langkah itu dilakukan untuk menggenjot pembiayaan di bidang perumahan. Adapun, suku bunga KPR yang dipatok BCA saat ini berada pada level 9 persen-11,5 persen.

“Perumahan sedang melemah. Tapi, saya berpikir di bulan September untuk turunkan bunga 0,25-0,5 persen,” katanya di sela-sela Indonesia Banking Expo (IBEX), Jakarta Convention Center, Jumat (29/8).

Di sisi lain, pihaknya juga akan memangkas suku bunga deposito ke level 8,5 persen dari posisi saat ini di 9 persen. Penurunan itu berlaku bagi deposito diatas Rp 25 miliar.

“Agustus sudah turun 0,25 persen dari 9,25 persen menjadi 9 persen, September turun lagi 0,50 persen dari 9 persen menjadi 8,5 persen. Jadi, sampai akhir tahun akan turun 0,75 persen secara akumulasi dari 9,25 persen menjadi 8,5 persen,” ujarnya.

Bank BCA rencananya akan mempertahankan penurunan suku bunga sampai akhir tahun mendatang. Atas penurunan itu, Jahja mengaku tak takut jika nasabah kelas atas pindah ke bank lain.

Masalah kelebihan likuiditas, jelasnya, akan menguras kantong BCA. Sebab, cost of fund yang perlu dibayarkan pun mahal. Likuiditas BCA yang disimpan di instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI), misalnya, hanya mendapatkan yield sekitar 7 persen. Padahal, BCA harus membayar dana mahal nasabah, setidaknya 9 persen.

“Likuiditas BCA berlebih ditengah ketatnya likuiditas. Biar saja bank lain menikmati. Nanti kalau kita merasa kurang, baru naikkan lagi. Deposito sensitif,” katanya.

Adapun, penurunan suku bunga deposito ini akan berpengaruh pada dana pihak ketiga (DPK) secara keseluruhan. Karena itu, BCA merevisi target DPK menjadi 10 persen sampai dengan akhir tahun.

“Target DPK sekadar target. Yang penting bottom line-nya. Kalau dengan alternatif financing cost of fund bisa lebih murah, itu lebih bagus meski DPK tidak mencapai target. Itu lebih profitable (menguntungkan) daripada target DPK tercapai, tapi harganya mahal,” ujarnya.

Jika pemerintah sepakat untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi dan hal tersebut mempengaruhi kenaikan inflasi, maka pihaknya akan kembali melakukan penyesuaian suku bunga, termasuk deposito.

“Masalah yang harus diamati adalah ada tidaknya kenaikan BBM. Kalau ada dampaknya terhadap inflasi tinggi, maka mau tidak mau harus ada penyesuaian bunga dan harus naik lagi. Kalau nanti kami perlu likuiditas, bisa dinaikkan lagi deposit rate-nya. Tapi, saat ini belum ada kebutuhan dana yang besar, jadi lebih baik saya turunkan dulu suku bunga depositonya,” katanya.

Penulis: O-2/FIR

Sumber:Suara Pembaruan

beritasatu.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me