Penjualan Rumah di Yogyakarta Melorot

Big Banner

iDEAonline.co.id – Perlambatan subsektor perumahan yang disebabkan pengetatan dan tingginya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), tak hanya berimbas pada anjloknya catatan  penjualan rumah di kawasan Jadebotabek, juga terjadi di Yogyakarta. 

Penjualan rumah pada kuartal I 2014 merosot sebesar 10 persen hingga 20 persen. Selain pengetatan moneter, pasar properti perumahan Yogyakarta juga dihantam dampak dari meletusnya Gunung Kelud, di Kediri, Jawa Timur. Dua hal tersebut berkontribusi besar terhadap catatan penjualan dalam tiga bulan pertama tahun ini. 

“Banyak konsumen yang menunda pembelian sampai keadaan normal kembali,” ujar Ketua DPD REI Daerah Istimewa Yogyakarta, Remigius Edi Waluyo, kepada Kompas.com, Selasa (29/4/2014). 
Menurutnya, pasar Yogyakarta yang didominasi kelas menengah ke bawah, terbebani dengan kenaikan suku bunga dan pembayaran uang muka 30 persen. 

“Mereka kemudian memilih aksi menunggu. Kami pikir, Bank Indonesia seharusnya membedakan perlakuan kepada kelas menengah bawah. Kebijakan loan to value (rasio pinjaman terhadap aset) harus diubah supaya bisnis perumahan di Yogyakarta lebih bergairah. Sekarang justru lesu,” kata Edi.

Penurunan  penjualan rumah sebesar 15 persen dialami perumahan CitraSun Garden, dan CitraGrand Mutiara Yogyakarta yang menyebabkan Ciputra Group merekondisi target penjualan tahun ini menjadi Rp 100 miliar. Angka yang sama juga terbukukan pada tahun lalu.

“Kami berharap target seperti tahun lalu. Tidak berani muluk-muluk, lebih moderat. Karena kondisi pasar melambat. Selain itu, beberapa bank juga belum bersiap mendukung penjualan kami sehingga butuh penyesuaian dalam waktu cukup lama,” ungkap Associate Director Ciputra Group, Agung Krisprimandoyo.

Menghadapi perlambatan, Ciputra Group kemudian melakukan berbagai penyesuaian. Selain target penjualan, juga merancang skema kemudahan pembayaran, memperkecil luas bangunan rumah baru. 
“Konsumen kami sebagian besar sensitif terhadap uang muka (down payment/DP). Oleh karena itu, kami merancang kemudahan pembayaran melalui skema in house installmentdengan besaran DP lebih rendah dari ketentuan BI,” jelas Agung.

Upaya tersebut setidaknya sedikit membantu mendongkrak penjualan pada April ini. Menurut Agung, jika pada September 2013 hingga Februari 2014, volume rumah terjual sangat minim, Maret sedikit membaik. Aktivitas transaksi mulai kembali berjalan dinamis.

“Kami harap April ini catatan penjualan akan stabil dan normal seperti sebelum 1 September 2013 saat LTV untuk rumah kedua, ketiga, dan seterusnya diberlakukan,” tukas Agung. 

Meski kondisi lesu, tak menghalangi Ciputra Group untuk melakukan ekspansi. Mereka berencana menambah 2 sampai 3 portofolio lagi di daerah barat, dan selatan Yogyakarta.

Sementara PT Cahaya Griya Inti Santoso akan menggeber pembangunan Pesona Bener di kota Yogyakarta, dan Pesona Blunyah di Kabupaten Sleman. Kedua proyek ini menyediakan rumah seharga Rp600juta hingga Rp800juta per unit.

Sumber: properti.kompas.com

ideaonline.co.id