BBM akan Naik, Pengembang Siap Naikkan Harga Rumah

Big Banner

WE Online, Semarang – Wakil Ketua Bidang Promosi, Publikasi, dan Kehumasan DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng Dibya K Hidayat mengatakan penjualan rumah masih menggembirakan, meskipun semakin santer terdengar rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

“Dari pameran yang kami adakan dari tanggal 29 Oktober hingga 9 November lalu terjual 69 unit rumah tipe menengah dan menengah atas. Ini sesuai dengan target kami,” ujarnya di Semarang, Selasa (11/11/2014).

Menurut dia, kondisi saat ini seharusnya menjadi kesempatan baik bagi yang ingin membeli rumah karena belum dilakukan kenaikan harga BBM subsidi. Ia mengatakan jika kenaikan harga BBM subsidi jadi dilakukan maka akan berdampak pada kenaikan harga jual rumah. Ditambah lagi, katanya, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum juga menguat.

Mengenai kondisi tersebut, katanya, para pengembang perumahan di Kota Semarang memastikan harga rumah akan segera naik dalam waktu dekat ini.

“Kalau saat ini harga-harga bahan bangunan sudah mulai naik, tapi para pengembang masih cenderung masih menunggu waktu yang tepat untuk menaikkan harga karena harga rumah yang sudah naik tidak bisa diturunkan lagi,” katanya.

Ia mengatakan para pengembang properti masih mengalkulasi formulasi kenaikan harganya terlebih dahulu sambil melihat perkembangan ekonomi.

“Untuk kenaikan harga properti atau perumahan dipastikan akan naik di awal tahun nanti setidaknya kenaikan harga akan berada di kisaran 15-20 persen dari harga yang berlaku saat ini,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada para calon pembeli agar segera membeli rumah jika dana yang dimiliki sudah mencukupi.

“Kalau masih menunggu beberapa bulan lagi maka dipastikan harga akan mengalami kenaikan. Kalau naiknya 10 persen kan sudah cukup tinggi, terutama untuk rumah menengah dan menengah atas,” katanya.

Dari kenaikan harga rumah nanti, katanya, yang akan paling terasa dampaknya pada segmen menengah bawah, sedangkan segmen menengah atas cenderung stagnan karena biasanya mereka menjadikan properti sebagai investasi.

“Segmen menengah atas biasanya membeli rumah untuk investasi saja karena sebelumnya sudah ada rumah tinggal. Nanti yang sangat merasakan dampaknya adalah segmen menengah bawah yang benar-benar membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal,” ujarnya. (Ant)

Editor: Cahyo

Foto: Sufri Yuliardi

wartaekonomi.co.id

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me