Faisal Basri: Pemerintah Sebaiknya Memprioritaskan Rusun Sewa

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Rumah susun sewa menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi persoalan kebutuhan hunian di perkotaan. Hunian seperti ini juga mencegah terjadinya penyimpangan yang banyak dilakukan oleh pengembang. “Banyak yang diakal-akalin pengembang, jadinya seperti Apartemen Kalibata City yang didesain untuk kalangan MBR, tapi yang beli masyarakat menengah atas,” ujar pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, kepada housing-estate.com di Jakarta, Rabu (12/11).

Faisal Basri

Faisal Basri

Menurut Faisal, Indonesia sebaiknya mencontoh Jepang dalam pembangunan perumahan.  Pemerintah negeri tersebut membangun banyak apartemen dengan unit-unit kecil dengan sistem sewa. Konsepnya moving atau bergerak, penghuni akan berpindah seiring peningkatan penghasilan, berkeluarga, dan bertambah anggota keluarganya. Seseorang yang belum punya anak, anak satu, atau dua anak, menempati hunian sesuai kebutuhannya. Seseorang dengan satu anak akan menempati unit Rusun sewa lebih besar dari unit yang ditempati bujangan atau keluarga yang belum punya anak.  “Konsep seperti ini tidak terjadi di Indonesia karena konsep kepemilikan huniannya seumur hidup,” terang Faisal.

Untuk kota-kota besar seperti Jakarta yang penduduknya sangat padat juga perlu dikembangkan rumah singgah. Rumah ini hanya digunakan untuk mandi dan tidur, selebihnya mereka bekerja di luar. “Ini mengingat banyak pekerja informal di Jakarta sehingga dibutuhkan sebuah rumah singgah yang sifatnya rame-rame dengan sesama profesi ataupun satu daerah,” imbuhnya.

Faisal memahami  anggaran pemerintah terbatas. Untuk itu kementerian yang menangani perumahan harus bisa fokus membangun hunian yang dapat menampung sebanyak mungkin warga. Kementrian Perumahan Rakyat sebaiknya jangan lagi mengurusi soal renovasi dan bedah kampung. Program itu bukan bidangnya Kemenpara melainkan Kementerian Sosial dan pemerintah daerah.

Editor: H. Prasojo

housing.estate.com