“Smart City”, Konsep Kota Masa Depan!

Big Banner

DEPOK, KOMPAS.com – Pengembangan tata kota dan perkotaan harus dirancang secara pintar sehingga tercipta gaya hidup yang lebih efisien, dan efektif. Terlebih di era teknologi digital saat ini yang memungkinkan tereduksinya kebutuhan perjalanan dan pada gilirannya berkontribusi terhadap pengurangan kemacetan serta penghematan penggunaan bahan bakar.

Managing Director CISCO Smart Cities International, Hardik Bhatt, memaparkan visi mengenai kota pintar (smart cities) tersebut di hadapan komunitas IT dan pegiat ekonomi kreatif Depok dalam sebuah diskusi bertajuk Depok Smart City Digital Forum, Rabu (12/11/2014).

“Konsep pengembangan kota pintar, menuntut penerapan intelligent transport serta penerangan jalan pintar yang mampu mendeteksi keadaan riil di jalan untuk menyesuaikan fungsinya secara efektif dan efisien. Kota pintar tidak bisa hanya diwujudkan oleh salah satu pihak, melainkan seluruh komponen masyarakat, baik pemerintah, swasta, maupun warganya. Untuk itu diperlukan inisiatif-inisiatif dari para stakeholder untuk mewujudkannya,” ujar Bhatt.

Dia menjelaskan, penggabungan konsep digital dengan penguatan komunitas lokal untuk mewujudkan local-based application memainkan peran strategis dalam mewujudkan kota-kota pintar serta kegiatan komersial digital (e-commerce).

Hal senada dikemukakan Guru Besar Institut Teknologi Bandung dan pendiri gerakan Indonesia Smart Cities Initiatives, Suhono Supangkat. Menurut dia, sangat penting mewujudkan sebuah ekosistem smart cities yang melibatkan peran aktif pemerintah maupun masyarakatnya.

“Konsep kota pintar bisa dimulai dari inisiasiasi warganya (bottom up). Apa yang dilakukan oleh  komunitas Depok dalam mewujudkan kota pintar merupakan langkah awal yang efektif menginspirasi langkah-langkah lanjutan,” kata Suhono.

Sementara itu, pakar infrastruktur dan perkotaan, Emil Elestianto Dardak mengatakan bahwa Depok yang merupakan kota percontohan inisiasi ini dan kota-kota lainnya di Indonesia harus mampu wujudkan konsep megapolitan polycentric bagi Jabodetabek yang akan menjadi megapolitan kedua terbesar di dunia.

“Dengan tantangan Depok sebagai kota resapan air yang tidak bisa mendorong industri secara massal, konsep smart cities menjadi penting untuk mendorong ekonomi berbasis pengetahuan sebagai tulang punggung ekonomi Depok dalam mendorong dekonsentrasi kegiatan jasa dan perdagangan dari pusat kota Jakarta,” tuturnya.

Emil juga mengutip laporan internasional dari Ovum Analysis, bahwa kunci kesuksesan smart cities ada dua, yaitu digital city strategies yang melibatkan inisiatif formal pemerintah kota, serta digital society initiative yang melibatkan gerakan kolaboratif dari masyarakat kota. Gerakan komunitas Depok sebagai sebuah gerakan kesadaran masyarakat perkotaan melambangkan digital society initiative.

Diskusi yang digelar secara berkala ini disepakati akan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah lanjutan strategis. Komunitas Kota Pintar Depok akan melakukan inventarisasi masalah-masalah perkotaan, untuk kemudian dikonsultasikan dengan ITB dan CISCO dalam menjajaki solusi-solusi berbasis teknologi yang dapat dikembangkan dan diterapkan kemudian.  

properti.kompas.com