Menunggu Momentum Pemulihan, Pengembang Terus Bangun Proyek Baru

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Momentum jadi kata kunci yang selalu digenggam pengembang.  Dalam kondisi pasar sedang bagus maupun jelek mereka bisa memanfaatkan untuk menggandakan pendapatan. Seperti situasi sekarang, kendati pasar properti lagi sepi proyek-proyek baru terus diluncurkan. Di Jabodetabek dalam tiga bulan terakhir tidak kurang dari tiga belas proyek apartemen baru diluncurkan. Itu belum termasuk perumahan dan cluster baru.

Apartemen Mid Town Summarecon

Apartemen Mid Town Summarecon

“Kita akui kondisi properti saat ini sedang di bawah, tapi justru saat inilah kita harus meluncurkan proyek, jadi setelah proyeknya selesai kondisinya sudah naik lagi dan menjadi saat tepat untuk dipasarkan,” ujar Jusup Halimi, CEO Farpoint (Gunung Sewu Group), kepada housing-estate.com di Jakarta, Kamis (13/11).

Farpoint baru-baru ini meluncurkan The Hundred, proyek multifungsi terdiri atas apartemen, perkantoran, dan hotel. Proyek di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, yang menyasar segmen kelas atas itu menelan investasi Rp3,5 triliun. Dalam sebulan terakhir ini saja setidaknya ada tujuh apartemen diluncurkan, yaitu Midtown (Serpong), Antasari 45 (Jakarta Selatan), Irvine Suite (Cikarang), La Forest Vivante (Permata Hijau), The Spring Residence (Ciputat), Roseville (Serpong), selain The Hundred.

Kalangan pengembang juga tidak khawatir jor-joran proyek baru ini akan berdampak negatif. Menurut mereka properti selalu punya pasar tersendiri dan bersifat lokal. Pembeli potensialnya adalah orang-orang yang di sekitar proyek. “Jadi nggak perlu khawatir suplainya terlalu banyak, properti itu pasti ada market-nya minimal warga di sekitar proyek,” ujar Bing Sugiarto Chandra, Direktur Ciputra Group, yang baru saja meluncurkan perumahan Citra Land Puri Serang (Banten) seluas 40 ha.

Selain itu hunian merupakan kebutuhan dasar, sehingga sampai kapan pun selalu dibutuhkan. Bahkan dari tahun ke tahun kebutuhannya semakin besar. Saat ini total kebutuhan yang belum dapat terpenuhi (backlog) sebesar 15 juta rumah. Itu belum termasuk kebutuhan rumah baru  sebanyak 800 ribu unit per tahun.

“Jadi, launching ramai-ramai ini bukan latah, memang pasarnya ada. Sebab, properti itu kalau belinya ditunda harganya pasti naik dan konsumen juga sudah menyadari itu,” imbuh Bing.

Editor: H. Prasojo

housing.estate.com