“Harga Rumah Sekarang Sudah Tidak Masuk Akal”

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan dinding stan menjulang tinggi hampir menyentuh atap Ruang Serbaguna Jakarta Convention Center, Senayan, pada Sabtu (15/11/2014). Stan-stan ini dihias dengan berbagai gaya dekorasi. Ada yang dihias dengan tumbuhan hijau lengkap dengan suara kicauan burung, ada pula stan yang memamerkan mobil BMW putih mewah.

Selain dekorasi yang unik, beberapa petugas penjualan baik pria dan wanita, secara aktif menarik pengunjung untuk mendatangi stan mereka.

Tibalah Ahmad (55), salah seorang pengunjung di REI Expo 2014, sekitar pukul 14.00 WIB. Berbeda dengan pengunjung lain yang sering kali dikerubungi petugas penjualan, Ahmad malah mendekati mereka, meminta daftar harga, dan menanyakan properti-properti yang dijual.

Namun, setelah beberapa kali mendekati para petugas ini, Ahmad tidak kunjung mendatangi salah satu stan untuk menanyakan lebih lanjut atau menyatakan diri serius membeli properti. Dia justru terlihat berkeliling sendirian sambil memerhatikan maket-maket perumahan yang dipajang dalam ruangan besar berpendingin udara tersebut.

“Kebanyakan (stan) yang di luar, mematok harga rumah sekitar Rp 1 miliaran. Saya enggak mampu. Makanya saya cuma bisa mengumpulkan brosur dan pamflet ini,” kata Ahmad kepada Kompas.com, Sabtu (15/11/2014).

Ahmad mengaku sedang mencarikan rumah untuk anaknya. Kisaran harganya tidak lebih dari Rp 600 juta. Meski sudah berputar-putar dan mendapatkan harga yang sesuai, Ahmad belum cocok dengan lokasi dan tipe rumah yang ditawarkan petugas penjualan.

“Saya cari di sekitar Tangerang. Karena rumah saya di Tangerang, saya ingin anak saya tinggal dekat rumah saja. Dari tadi belum ketemu harga dan lokasinya pas. Makanya saya mau lihat (stan) di dalam,” tutur Ahmad.

Jika Ahmad ingin di Tangerang, berbeda dengan Fernando yang ingin membeli rumah di sekitar Bekasi. Setelah mengitari stan dan memerhatikan harga-harga yang ditawarkan, Fernando kerap mengernyitkan dahi.

“Kalau saya lihat, harga-harga rumah sekarang banyak yang tidak masuk akal. Masak harga rumah di Serpong lebih mahal ketimbang di Jakarta,” kata Fernando.

Dia menyebutkan, banyak pengembang yang nakal memainkan harga. Ini terjadi karena kebutuhan rumah sangat tinggi, sementara pasokan terbatas, sehingga pengembang seenaknya mematok harga setinggi mungkin.

Fernando miris membayangkan masyarakat yang taraf hidupnya berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah.

“Saya cari (rumah) untuk sendiri sekitar Rp 600 juta. Tapi, saya lihat, kebanyakan yang datang ke sini, mau investasi. Kasihan orang-orang menengah ke bawah, dapat harganya mahal,” kata Fernando.

Dia berharap pemerintah membuat kebijakan yang mampu menurunkan angka kesenjangan kebutuhan dengan ketersediaan rumah (backlog). Dengan begitu, bubble property, atau harga rumah yang melambung tinggi, tidak terjadi.

Penelusuran Kompas.com menemukan bahwa rumah di lokasi-lokasi bukan favorit sudah menembus angka miliaran rupiah. Sebut saja Cendana Residence di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Untuk unit seukuran 69/196 dibanderol Rp 1,5 miliar.

Sementara rumah dengan dimensi 131/198 dipatok seharga Rp 1,3 miliar di Villa Bogor Indah 5, Bogor, Jawa Barat. Sedangkan rumah tipe 38/171 ditawarkan seharga Rp 1,3 miliar di perumahan Regensi Melati Mas, Serpong.

Tahun ini, REI Expo menampilkan 14 pengembang di 165 lokasi proyek strategis, antara lain di Bekasi, Bogor, Tangerang, Cibubur, Depok, Cilegon, Bandung, Puncak, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Bali, Balikpapan, dan Manado.

properti.kompas.com