Harga Ruang Ritel di Jakarta Bakal Naik

Big Banner
BATAMTODAY.COM – HARGA sewa ruang ritel Jakarta terus menanjak, menurut riset perusahaan jasa real estate Jones Lang LaSalle (JLL). Faktor penyebabnya adalah pembatasan pembangunan pusat perbelanjaan, yang kini dibarengi dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Ruang ritel di ibu kota itu masih termasuk yang paling murah di Asia dalam ukuran harga sewa per meter persegi. Hanya Bangkok dan Manila yang harga sewanya lebih rendah.

Meski demikian, laju kenaikan harga di Jakarta ternyata paling pesat dibanding kota lain. Dalam triwulan yang berakhir 30 September, rata-rata harga sewa tahunan di Jakarta adalah $704 per meter persegi atau setara Rp8,5 juta. Angkanya naik 10,4 persen dari triwulan sebelumnya dan 11,3 persen dari setahun sebelumnya.

“Saya pikir faktor utamanya adalah kelangkaan pasokan,” ujar Todd Lauchlan, country head JLL Indonesia.

Ia berpendapat bahwa pembatasan pembangunan pusat belanja baru di Jakarta telah memicu berlebihnya permintaan ruang ritel. Peraturan itu diperkenalkan pada 2011 dengan tujuan mengurangi kemacetan di pusat kota. “Masih ada pengembangan ruang ritel saat ini, tetapi laju pertumbuhannya jauh lebih lambat,” tambah Lauchlan.

Pengeluaran tambahan untuk properti ini akan semakin menghimpit margin para peritel. Kini, sektor ritel pun harus menanggung tambahan biaya akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.

Ongkos transportasi untuk berbagai barang akan naik. Menurut para ekonom, dampaknya terhadap inflasi memang berjangka pendek, namun cukup signifikan.

Bagaimanapun, harga ruang ritel Jakarta masih jauh lebih murah ketimbang beberapa kota di negara tetangga. Di Orchard Road, daerah belanja premium Singapura, rata-rata harga sewa mencapai $4.654 per meter persegi, atau sekitar Rp56,6 juta.

Yang paling mahal adalah Hong Kong, dengan rata-rata $15.484 per meter persegi atau kira-kira Rp188 juta. Sebaliknya, Manila tercatat paling murah dengan $515 atau Rp6,3 juta per meter persegi.

Menurut data JLL, di Jakarta saat ini tersedia ruang ritel seluas total 2,6 juta meter persegi dengan tingkat hunian 93 persen.

“Tren lain yang kami lihat adalah kota ini semakin vertikal,” ungkap Lauchlan. “Saat ini, kita bisa menumpuk lebih banyak properti dalam sebidang lahan ketimbang beberapa waktu lalu.”

Akibat kemacetan yang parah, permintaan untuk properti mixed-use di Jakarta memang meningkat, karena pengembangan properti semacam ini memungkinkan warga tinggal semakin dekat dengan lokasi kantor. (*)

Sumber: WSJ

(Redaksi)

propertinews.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me