Edith Macfield, Perempuan Perkasa “Pahlawan Perumahan”

Big Banner

KOMPAS.com – Apapun yang dimilikinya secara sah, seseorang pasti akan mempertahankannya setengah mati, tak peduli apapun akan terjadi. Demikian halnya dengan Edith Macfield, seorang perempuan tua yang mempertahankan rumahnya dari gempuran industrialisasi di tengah kota.

Rumah Edith berada di sudut antara Jalan Northwest 46 dan Avenue 15, Ballard, Seattle, Amerika Serikat. Rumah tradisional kecil itu berada tepat di tengah-tengah Trader Joe dan LA Fitness.

Kini, rumah berusia ratusan tahun itu dikelilingi oleh menara-menara beton di ketiga sisinya. Hal itu menjadikan bangunan kecil tersebut sebagai satu-satunya rumah di wilayah Ballard.

Awalnya, rumah tersebut akan dijadikan sebagai kompleks komersial pada 2006 lalu. Namun, Edith menolak menjual rumahnya. Ia bahkan tak bergeming meski ditawari uang pengganti senilai 1 juta dollar AS atau setara Rp 12,1 miliar.

Atas penolakannya itu, Edith menjadi pahlawan warga Ballard yang lelah melihat lingkungannya hilang ditelan kondominium mewah dan restoran trendi. Publisitas atas Edith pun begitu besar sehingga memaksa pengembang membangun gedung lima lantai di sekitar rumah berusia 108 tahun tersebut. Hingga akhirnya, rumah bersejarah milik Edith itu menjadi inspirasi pembuatan film animasi Pixar berjudul “UP.”

“Aku tidak akan pindah. Aku tidak butuh uang. Uang bukanlah segalanya,” kata Edith pada Seattle P-I.

Edith membeli rumah itu pada 1950 dan terus dihuni sampai kematian menjemputnya pada 2008. Dia terus tinggal di rumahnya, bahkan ketika banyak beton di sekitarnya. Saat suara crane menyelimuti rumahnya, Edith dengan mudahnya mengencangkan suara televisi atau musik opera favoritnya untuk menghilangkan bising itu.

“Aku sudah pernah mengalami Perang Dunia II, dan suara-suara peperangan tidak pernah menggangguku,” katanya.

Edith pernah berusaha menjual rumahnya dan pindah selama dua atau tiga kali, namun usahanya selalu gagal. Bahkan, pada usaha terakhirnya ia malah terjatuh dan mematahkan beberapa tulang rusuknya. Setelah kejadian itu, Edith sadar bahwa tak mungkin ada kans untuk menjual dan pindah dari rumah tersebut.

Persahabatan unik

Selama pembangunan di sekitar rumah itu, Edith menjalin persahabatan tak biasa dengan Barry Martin. Barry adalah seorang pengawas senior proyek konstruksi di lingkungan rumah Edith. Barry kemudian menghabiskan dua tahun untuk merawat Edith yang sakit.

Selama itu pula Barry menyuapinya, tinggal bersamanya, dan mendengarkan cerita-cerita menakjubkan Edith ketika menjadi mata-mata di Perang Dunia II dan lari dari kamp konsentrasi.

Tak hanya itu, Barry juga membersihkan rumah Edith. Ia bahkan memandikannya, membawanya ke dokter, dan menjalankan segala tugasnya.

Edith meninggal pada Juni 2008 akibat kanker pankreas. Rumahnya kemudian ia tinggalkan untuk Barry. Kemudian Barry menjual rumah itu kepada Greg Pinneo seharga 310 ribu dollar AS atau sekitar Rp 3,7 miliar lebih.

Greg lalu menjadikan rumah Edith sebagai kantor untuk firma real estate miliknya. Pada Oktober 2012, rumah itu menjalani proyek renovasi. Jendela baru dipasang dan loteng diperluas untuk memberikan ruang bagi kamar tidur dan kamar mandi. Pemilik rumah saat ini bahkan berencana menaikkan rumah dan membangun ruang acara komunitas di bawahnya.

Sumber: www.amusingplanet.com

properti.kompas.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me