Persaingan Perkantoran Koridor Simatupang Berlangsung Sengit!

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Koridor Simatupang, Jakarta Selatan, menjadi arena ‘pertarungan’ para pengembang dalam memperebutkan pasar perkantoran. Rivalitas semakin ketat dalam kurun tiga tahun terakhir, saat gedung-gedung baru beroperasi dan proyek-proyek anyar bermunculan.

Skala pengembangan bukan hanya ratusan miliar rupiah, melainkan sudah mencapai triliunan rupiah. Beberapa nama besar mempertaruhkan kredibilitas dan reputasinya di koridor yang mulai populer pada medio 2004 tersebut. Sebut saja, PT Intiland Development Tbk., Metropolitan Group, dan Arkadia Group.

Mereka harus berhadapan dengan sejumlah pengembang baru macam PT Total Persada Development (TPD), PT Kalma Propertindo Jaya, dan PT Puriampera Intipratama.

PT Total Persada Development berkongsi dengan PT Graha Kirana Megah sebagai penyedia lahan membangun GKM Tower melalui perusahaan patungan PT Lestari Kirana Persada. Tak tanggung-tanggung, mereka membenamkan dana sebesar 25 juta-30 juta dolar AS untuk merealisasikan mimpi memiliki portofolio green building perdana.

Sementara PT Kalma Propertindo Jaya membangun 18 Office Tower. Investasi perkantoran yang akan dibangun bersama dengan apartemen dan hotel ini senilai Rp 1 triliun. Sedangkan PT Puriampera Intipratama membesut AD Premier setinggi 19 lantai.

Menyusul kemudian rencana PT Metropolitan Kentjana Tbk yang akan memulai konstruksi fondasi perkantoran kuartal I 2015.

Menurut data Colliers International Indonesia, 2018 mendatang perkantoran di koridor Simatupang bertambah seluas 1.365.427 meter persegi. Sementara sampai kuartal III 2014, perkantoran eksisting sudah menembus posisi 2.396.674 meter persegi.

Meskipun penyerapannya masih cukup tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya, namun tak beranjak dari pencapaian tahun lalu pada periode yang sama yakni seluas 40.000 meter persegi. Sedangkan tingkat hunian mulai memperlihatkan tren menurun menjadi 93 persen dari sebelumnya 95 persen pada 2013 dan puncaknya 97 persen pada 2011.

Bagaimana kemudian para pengembang bertahan dalam persaingan ketat tersebut?

CEO PT Puriampera Intipratama, Dhanial Djawas, mengatakan pihaknya belum akan melakukan eksekusi kenaikan harga seraya menunggu penyesuaian pasar.

“Kami akan menahan untuk tidak mengubah harga. Pasalnya pasar masih menunggu. Kami tidak ingin gegabah mengubah harga kendati memang sudah saatnya untuk melakukan itu,” ujar Dhanial kepada Kompas.com, Rabu (26/11/2014).

Perubahan harga, kata Dhanial, sudah mulai dilakukan oleh para pengembang. Terutama pengembang yang membangun gedung perkantoran berkonsep hibrid (strata dan sewa).

“Saat ruang-ruang kantor stratanya laku, mereka kemudian menyesuaikan harga untuk ruang-ruang kantor yang ditawarkan melalui mekanisme sewa. Bahkan ada kecenderungan “banting harga”,” tutur Dhanial.

AD Premier sendiri saat ini mematok harga sewa sekitar Rp 175.000 per meter persegi. Sementara secara umum, harga sewa perkantoran di koridor Simatupang serentang Rp 200.000-Rp 250.000 per meter persegi di luar biaya servis.

properti.kompas.com