Pengembang Optimistis Minat Properti Jakarta Masih Tinggi

Big Banner

WE Online – Pengembang Ciputra International optimistis bahwa minat properti di wilayah Jakarta Barat masih tinggi yang terbukti antara lain karena telah terjualnya apartemen di Kompleks Ciputra International terjual dalam waktu dua bulan.

“Pada bulan September lalu, Amsterdam Tower memperoleh respon yang sangat positif dari masyarakat. Dalam dua bulan, 100 persen dari total 412 unit apartemen telah habis terjual,” kata Direktur Ciputra Group Artadinata Djangkar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Artadinata Djangkar, hal itu menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap hunian vertikal di Jakarta Barat.

Ia mengemukakan, tingginya minat masyarakat terhadap Amsterdam Tower ini menyebabkan naiknya harga per meter persegi dari apartemen tersebut, hingga mencapai sebesar 50 persen, selain juga menyesuaikan dengan meningkatnya harga tanah di Jakarta.

Sementara untuk menara perkantoran, ujar dia, sejak dilepas ke pasaran pada awal November, hingga kini telah berhasil menyerap lebih dari 60 persen penjualan dari total 180 unit yang dipasarkan secara strata.

“Kami mengerti kebutuhan masyarakat Jakarta akan pemukiman yang dekat dengan area perkantoran, sehingga mempersingkat waktu di jalan. Kami melihat, daerah Puri akan menjadi Central Business District baru di Jakarta Barat, sebagai alternatif dari yang sudah ada di daerah Sudirman, Thamrin dan Kuningan. Untuk itu, kami hadirkan Ciputra International,” katanya.

Ciputra International adalah sebuah kompleks bangunan multifungsi yang terdiri dari 10 menara dengan 6 menara perkantoran, 3 menara apartemen dan 1 menara hotel berbintang 5, yang terletak di daerah Puri, Jakbar.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan kenaikan harga properti akibat dampak pengalihan subsidi bahan bakar minyak diperkirakan baru terasa pada awal 2015.

“Kenaikan harga properti diperkirakan mulai dirasakan awal 2015,” kata Ali Tranghanda dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (24/11).

Menurut dia, harga properti belum menampakkan kenaikan yang signifikan, malahan di beberapa lokasi terjadi koreksi pasar.

Ia berpendapat, koreksi pasar yang terjadi tidak mencerminkan jatuhnya pasar properti melainkan lebih dikarenakan aksi individu yang menjual propertinya.

“Sebagian besar koreksi pasar terjadi untuk rumah-rumah yang dibeli saat harga ‘over value’ (sudah ketinggian),” katanya.

Ali Tranghanda juga mengemukakan bahwa kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dari 7,5 persen menjadi 7,75 persen diperkirakan bakal menjadi salah satu faktor yang membuat pasar properti terpuruk.

Menurut Ali, kondisi tersebut bakal membuat situasi perlambatan properti semakin turun tajam, yang terindikasi dari telah terjadinya penurunan lebih dari 69 persen pada kuartal III 2014 dibandingkan kuartal III 2013.

Indonesia Property Watch juga memperkirakan bahwa dengan perkiraan setiap kenaikan 1 persen suku bunga akan menurunkan daya beli sebesar 4-5 persen. “Namun demikian dengan adanya multiplier effect dari BBM dan perlambatan properti saat ini, maka diperkirakan penurunan daya beli minimal 30 persen,” katanya.

Selain itu, ujar dia, para pengembang akan berhati-hati untuk menaikkan harga propertinya menyusul akan segera naiknya biaya konstruksi dan biaya pendanaan.(Ant)

Editor: Asep

Foto: SY

wartaekonomi.co.id