Tahun Depan, Pertumbuhan Properti Mencapai 10 – 15 Persen

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Pertumbuhan pasar properti pada 2015 mendatang diprediksi mencapai 10 persen hingga 15 persen. Meski tetap tumbuh positif, namun lebih rendah dari pencapaian 2012 dan 2013 yang berada pada kisaran 20 persen hingga 30 persen.

Demikian pendapat beberapa pengembang yang dirangkum Kompas.com dalam kesempatan berbeda, terkait pandangan mereka terhadap kondisi pasar properti 2015 mendatang.

“Pertumbuhan ekonomi memang melemah, tidak sekuat 2013 atau 2014. Tapi, jangan lupa, kue pasar properti kita masih sangat besar. Itu yang tidak dimiliki oleh negara-negara lainnya. Secara demografi pun, jumlah populasi dengan daya beli yang meningkat semakin bertambah,” jelas Presiden Direktur PT Ciputra Residences, Budiarsa Sastrawinata, Jumat (28/11/2014).

Hal senada dikatakan Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki. Menurut dia, pertumbuhan pasar properti masih positif. Masyarakat banyak yang menunda pembelian pada tahun ini, namun akan melakukan transaksi tahun depan.

“Sekitar 10 persen sampai 15 persen pertumbuhannya. Itu merupakan angka moderat. Namun bisa lebih dari itu. Oleh karenanya kami berani melansir produk-produk baru. Tahun depan mulai memasarkan Summarecon Bogor,” buka Johannes, Kamis (27/11/2014).

Sementara itu, CEO PT Puriampera Intipratama, Dhanial Djawas, mengaku optimistis melihat tingkat konfirmasi yang tinggi atas perkantoran yang dikembangkannya, AD Premier.

“Tingkat konfirmasi perkantoran kami sudah empat lantai terisi. Itu berasal dari perusahaan-perusahaan yang ekspansi dan relokasi. Yang mengincar, lebih banyak lagi, karena kami masih menahan untuk dikeluarkannya harga baru,” tutur Dhanial.

Kenaikan suku bunga

Bertubi-tubi tantangan dihadapi sektor properti Indonesia, mulai kebijakan pengetatan kredit Bank Indonesia, Pemilihan Umum, kenaikan BBM hingga lonjakan suku bunga acuan (BI Rate). Tantangan tersebut menstimuli perubahan suku bunga kredit properti yang tidak dipandang negatif oleh pengembang. 

Menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk., Artadinata Djangkar, suku bunga lebih dipengaruhi oleh kondisi eksternal negara. Sementara itu, tiga faktor lainnya merupakan persoalan internal dalam negeri.

“Jadi, tantangan pasar properti Indonesia sebetulnya hanya tiga yakni pengetatan kredit, kenaikan BBM dan Pemilihan Umum. Itu pun justru membuat pertumbuhan sektor properti Indonesia lebih wajar dan sehat,” ujar Artadinata.

Pasar domestik yang sangat besar, tambah dia, merupakan kekuatan yang akan memicu pertumbuhan. Saat ini, pasar domestik telah bergeser menjadi real demand (kebutuhan nyata) ketimbang dua atau tiga tahun lalu yang justru masih dikuasai investor dan spekulan.

“Saat ini komposisi real demand lebih banyak sekitar 55 persen hingga 60 persen, sedangkan investor sekitar 40 persen. Itu terjadi pada proyek apartemen Amsterdam di Ciputra International. Konsumen investor paling banter membeli hanya 4 unit. Itu pun untuk diinvestasikan sebagai tempat tinggal anaknya kelak,” kata Artadinata.