Bangsawan Inggris Berburu Tanah di Shanghai

Big Banner

Housing-Estate.com, Jakarta – Mumpung lagi harga turun, mari berburu tanah. Begitulah yang dilakukan oleh Grosvenor Group Ltd, pengembang asal Inggris saat ini di Shanghai, Tiongkok. Pengembang yang dimiliki oleh keluarga bangsawan Duke of Wesminster itu mencari tanah untuk dibangun gedung kantor grade premium. Menurut Bloomberg Billionaires Index, bangsawan Inggris yang bernama asli Gerald Grosvenor itu adalah salah satu warga superkaya di Inggris dengan kekayaan 12,4 miliar dolar AS, setara Rp153 triliun.

Grosvenor sudah beroperasi di Tiongkok sejak satu dekade silam. Tapi selama ini Grosvenor hanya fokus ke bisnis renovasi residensial. Mereka juga punya sejumlah lantai di China Merchants Tower di Beijing dan Shui On Plaza di Shanghai yang baru dibeli tahun lalu.

Shanghai Sky

Shanghai Sky

Menurut Nicholas Loup, Chief Executive Office Grosvenor Asia, dalam pengembangan investasi itu, pihaknya akan membawa mitra atau investor seperti lembaga dana pensiun atau institusi pengelola aset. Loup menilai bahwa dengan kondisi ini pihaknya akan lebih mendapat tawaran harga yang lebih baik, karena tingkat kompetisi lebih rendah daripada kondisi normal. “Kami akan melihat kesempatan itu dalam enam sampai 12 bulan ke depan,” kata Loup.

Rencana akan membangun gedung kantor di Tiongkok, karena Grosvenor menilai pasar properti itu masih cukup baik di sana. Walaupun mereka menyadari bahwa secara umum pasar properti sedang lesu dan pertumbuhan ekonomi negara tersebut sedang ditekan. Pendapat pihak Grosvenor ini berbeda dengan Hang Lung Properties Ltd.

Menurut Ronnie Chan, chairman pengembang asal Hong Kong itu justru meragukan permintaan ruang kantor masih cukup menyerap pasok ruang kantor kelas premium. Itu sebabnya mereka lebih menahan diri dan hanya akan membangun gedung kantor di lokasi yang berdampingan dengan pusat-pusat belanja milik mereka di Tiongkok.

Menurut konsultan CBRE Group Inc, pasok kantor baru di kota-kota utama, termasuk Beijing dan Shanghai dalam tiga tahun terakhir sudah mencapai puncaknya. Dalam beberapa bulan ke depan, jumlah ruang baru akan mencapai 400.000 m2. Sementara permintaan dari perusahaan-perusahaan pemerintah sedang lemah. Demikian juga perusahaan multinasional, saat ini mereka berhati-hati untuk ekspansi. Namun, Loup tetap optimis. “Jika kualitas dan lokasi menjadi hal utama dalam memilih, saya rasa pasok yang ada tidak cukup,” katanya.

Pasok yang ada sekarang, imbuhnya, baik yang ada di Shanghai atau di Beijing yang betul-betul berkualitas baik tidak sebanyak yang ada di kota-kota global lain, seperti London, New York dan Tokyo. Tak hanya Grosvenor, sejumlah investor asing saat ini juga sedang mengincar tanah-tanah di Tiongkok. Alasannya apa lagi, kalau bukan memanfaatkan kondisi mumpung harga sedang turun. Salah satunya adalah Gaw Capital Partners, yang pada awal tahun ini membeli sebuah properti di Beijing yang sebelumnya milik konglomerat asal Hong Kong, Richard Li.

 

(Sumber: Bloomberg)

 

housing.estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me