Tiga Alasan Pengembang Berpaling ke Koridor Gatot Subroto

JAKARTA, KOMPAS.com – Ada tiga faktor utama yang menstimulasi para pengembang berpaling ke koridor Gatot Subroto, Jakarta Pusat, sebagai wilayah garapan pembangunan properti. Pertama, lahan masih tersedia banyak dengan harga relatif masih kompetitif.

Berdasarkan data Leads Property Indonesia, harga lahan di koridor yang menghubungkan Jakarta Barat dan Jakarta Timur tersebut, sekitar Rp 20 juta hingga Rp 35 juta per meter persegi.

Menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, ketersediaan lahan di kawasan Gatot Subroto masih cukup banyak. Tak hanya lahan kosong, melainkan juga lahan yang di atasnya terdapat gedung-gedung tua yang berpotensi dihancurkan dan dibangun gedung baru.

“Selain itu, banyak pengembang mengincar koridor ini juga karena di kawasan Satrio, Mas Mansyur dan Kasablanka lahan terbatas, kalau pun ada harga sudah tinggi sekitar Rp 45 juta sampai Rp 55 juta per meter persegi. Jangan tanya lahan di kawasan Sudirman,” tutur Hendra kepada Kompas.com, Jumat (12/12/2014).

Kawasan Satrio, Mas Mansyur dan Kasablanka, tambah Hendra, marak sejak empat tahun lalu. Ada banyak pengembangan komersial, mulai dari apartemen, perkantoran hingga pusat belanja seiring dihidupkannya kembali program Satrio International Shopping and Tourism Belt.

“Banyak kemudian pemilik lahan mengoptimalisasi asetnya. Menggarapnya sendiri atau juga pilih opsi menjualnya kepada pengembang dan investor. Hasilnya, berdiri gedung-gedung tinggi,” ujar Hendra.

Nah, ketika koridor Satrio, Mas Mansyur dan Kasablanka sudah padat, para pengembang dan investor pun kemudian beralih ke koridor Gatot Subroto. Tercatat beberapa pengembang besar yang sebelumnya menggarap kawasan Satrio dan Mas Mansyur, juga ikut memanfaatkan peluang di kawasan Gatot Subroto.

Sebut saja KG Global Development yang merancang properti multifungsi Mangkuluhur City. Mereka merogoh kocek lebih dari Rp 4 triliun untuk merealisasikan dua geudng perkantoran, dua apartemen dan satu hotel di atas lahan seluas 4 hektar. Sebelumnya, mereka telah memulai pembangunan TCC Batavia di kawasan Mas Mansyur.

Menyusul KG Global Development adalah PT Alam Sutera Realty Tbk yang membesut pengembangan The Tower senilai Rp 1 triliun. Pengembang lainnya PT Buana Pacifik International yang sudah memulai konstruksi Gayanti City. Proyek ini terdiri atas dua menara apartemen berkonsep loft dan satu menara perkantoran.

Mereka menginvestasikan lebih dari Rp 1,1 triliun untuk membangun Gayanti City di atas lahan seluas 1,5 hektar.

Berikutnya Rajawali Group. Imperium bisnis ini mengembangkan Capital Place seluas 2 hektar. Di dalamnya terdapat perkantoran Capital Place seluas 90.551 meter persegi, dan hotel The St Regis Jakarta dengan 124 suites.

Berturut-turut kemudian Mulialand Group dengan Wisma Mulia 2 seluas 80.000 m2, dan PT Citratama Inti Persada dengan Centennial Tower seluas 148.300 m2. Kemudian PT Telkom Landmark Tower yang membenamkan Rp 1,4 triliun untuk mendirikan dua gedung perkantoran masing-masing setinggi 20 lantai dan 48 lantai.

“Faktor kedua, pengembang mencoba menciptakan pasar baru. Pasalnya di kawasan Gatot Subroto hanya ada satu gedung kualifikasi Grade A, yakni Wisma Mulia. Selebihnya adalah gedung kantor Grade B dan gedung-gedung tua. Harga sewanya pun masih rendah yakni sekitar 22 dollar AS-27 dollar AS,” tambah Hendra.

Kenyataan tersebut yang mendorong pengembang berlomba membangun gedung baru untuk mengakomodasi kebutuhan ruang perkantoran yang meluber dari limpahan permintaan koridor Satrio dan Mas Mansyur.

Faktor ketiga, lanjut Hendra, aksesibilitas Gatot Subroto yang bisa dijangkau dari berbagai arah. Lokasinya strategis, ke Bandara International Soekarno-Hatta, ke kawasan industri Cikarang, ke kawasan Sudirman, ke kawasan Pancoran, bisa ditempuh dalam hitungan menit.