Menyedihkan, Pasangan Lansia Ini Berjuang Merebut Rumah yang Diambil Anaknya

Big Banner

Miris sekali menyaksikan seorang anak yang berseteru dengan orang tuanya sendiri hanya karena masalah harta. Susah payah ayah dan ibu membesarkannya, tapi anaknya malah berlaku tidak hormat karena telah dibutakan oleh hawa nafsu duniawinya untuk mendapatkan rumah orang tuanya. 

Hal tersebut tengah dirasakan oleh pasangan lansia Achmad Tjakoen Tjokrohadi (92) dan Boedi Harti (86). Bukannya mendapatkan ketenangan di usia lanjutnya, mereka malah harus menghadapi gugatan hukum oleh anak kandungnya sendiri, Ani Hadi Setyowati atau Tatik.

“Menurut akal saya, tidak mungkin jika anak saya berbuat demikian jauh. Sebab anak saya itu taat kepada saya sebelumnya. Di belakang anak saya pasti ada pihak lain,” ujar Achmad, seperti informasi yang diterima Rumahku.com.

Rumah sengketa tersebut memiliki luas 1.000 meter persegi dan berada di Jalan Diponegoro 2, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Rumah peninggalan Belanda yang dibeli pada 1968 itu seharusnya menjadi warisan untuk kedelapan anak Achmad dan Boedi. Namun, yang terjadi adalah rumah tersebut kini menjadi milik Tatik seorang.

Awal mula sengketa adalah ketika suatu hari pada tahun 1999, Achmad mulai menyusun akta hibah rumah tersebut bersama Tatik. Tiba-tiba, Tatik menyuruhnya untuk pergi ke notaris untuk menandatanginya tanpa boleh bertanya apapun.

Mulai saat itu, terkuaklah fakta bahwa akta hibah itu telah menjadi milik Tatik, padahal seharusnya dihibahkan untuk kedelapan anaknya secara adil. Menyadari bahwa akta hibah itu tidak sesuai keinginannya, Achmad pun meminta Tatik untuk mengubahnya. Namun, permintaan itu ditolak dan Tatik mengatakan jika aktanya ingin diubah, maka orang tuanya harus membayar Rp2,7 miliar.

Saat ini, Tatik tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai bankir. Sejak sengketa itu, hubungan Tatik dengan keluarga menjadi renggang. Sudah lama tidak komunikasi seolah tidak ada lagi hubungan.

Berbagai upaya komunikasi dan perdamaian telah diupayakan oleh Achmad dan Boedi. Bahkan sejak 2011, bersama keenam anaknya (satu anak telah meninggal), pasangan lansia itu pun berjuang untuk menggugat akta hibahnya ke PT dan MA. Namun, sayangnya usaha mereka belum berhasil dan ditolak. 

Kini, setelah menjalani konflik selama 15 tahun dengan Tatik, Achmad dan Boedi pun hanya bisa berharap akan terjadi perdamaian dan rumahnya tersebut dapat kembali. “Harapan saya, saya ingin hak saya dikembalikan. Saya ingin rumah ini kembali untuk anak-anak saya, semuanya,” ujar Boedi berharap.

 

rumahku.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me