Kota Mandiri di Indonesia, Belum Sepenuhnya Mandiri

BSD City, salah satu pelopor kota mandiri yang mulai memiliki berbagai fasilitas sendiri sebagai sebuah kota

 

Pengembang-pengembang papan atas, mulai berlomba untuk mengulang sukses mereka pada pengembangan properti berskala kota atau kota mandiri di waktu lalu. Tengok saja Ciputra, Lippo, Alam Sutera, Intiland dan Pakuwon di Surabaya. Namun bagi investor, tidak semua kota mandiri memberikan mereka peluang untuk mendulang capital gain atau keuntungan investasi dari kenaikan harga yang tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan properti berskala menengah atau kecil (di bawah 50 hektar).

 

“Apabila kita lebih jeli, kenaikan harga lahan lebih pesat pada yang skala kecil. Pada skala besar, harga lahan dapat naik dua kali lipat dalam jangka waktu sekiranya 5 tahun, sedangkan pada lahan skala kecil dibutuhkan 2-3 tahun untuk menjadikan harga tanah naik hingga dua kali lipat,” ucap Benjamin Ginting, Ketua Ikatan Analis Properti Indonesia.

 

Namun secara jangka panjang menurut dia, pembangunan kota mandiri diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan di kota utama. Dengan adanya kota mandiri, masyarakat tidak perlu memadati kota utama untuk rutinitas sehari-hari, karena di kota mandiri sudah disediakan fasilitas-fasilitas yang memadai. Selain itu, adanya kota mandiri diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi, terutama dalam bidang perdagangan.

 

Kritiknya kepada pengembang kota mandiri adalah, “Kota mandiri di Indonesia belum sepenuhnya mandiri. Karena dalam perkembangannya, kota mandiri di Indonesia hanya mengembangkan dalam sisi hunian dan fasilitas, seperti rumah, mall, dan sekolah. Sedangkan untuk kebutuhan primer seperti perdagangan dan jasa belum sepenuhnya bertumbuh dan bahkan menimbulkan kemacetan pada lalulintas menuju kota utama.” (Laporan: Naomi Sitorus/Foto: Istimewa)

rumah123.com