Tahun 2015, Dana Asia Makin Deras Mengalir ke AS, Inggris, dan Australia

Big Banner

KOMPAS.com – Dana asal Asia bakal terus mengucur deras ke Australia, Inggris, dan Amerika Serikat dalam sebelas bulan ke depan. Hal ini melanjutkan fenomena serupa yang terjadi selama tiga kuartal tahun 2014 lalu.

Tak tanggung-tanggung, fulus Asia yang masuk ke pasar properti komersial tiga kawasan tersebut senilai 21,7 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 273,3 triliun. Jumlah ini melebihi angka yang tercatat pada periode yang sama tahun 2013 yakni senilai 20,2 miliar dollar AS (Rp 254,4 triliun).

Secara historis, hingga kuartal keempat 2014, volume dana Asia diperkirakan melampaui catatan tahun 2013 senilai 32,3 miliar dollar AS (Rp 406,7 triliun). Angka ini tidak termasuk nilai investasi yang dibelanjakan investor individu di Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.

Analisa Knight Frank menyebutkan, derasnya aliran dana Asia ke wilayah barat, karena saat ini Asia merupakan mesin ekonomi dunia. Penguatan mata uang, plus harga saham yang tertekan di pasar utama dunia, memicu investor Asia bertualang di mancanegara.

Selain itu, pasar barat juga menawarkan imbal hasil yang menarik, biaya kredit rendah, pasar sewa mulai pulih, kepemilikan dengan jangka waktu yang lebih panjang serta lebih transparan. Berbeda halnya dengan Asia, di mana harga properti tinggi namun hasil yang diharapkan demikian rendah.

Transaksi besar

Semester kedua tahun lalu, terjadi dua transaksi besar yang menyita perhatian dunia, yakni pembelian hotel supermewah Waldorf Astoria di Manhattan, New York, oleh Anbang Insurance Group senilai 1,95 miliar dollar AS (Rp 24,5 triliun), dan hotel Sheraton Sydney yang dibeli Sunshine Insurance Group senilai 400 juta dollar AS (Rp 5,037 triliun).

Kedua pembelian tersebut dianggap sebagai gelombang terbaru institusi ekuitas asuransi Tiongkok. Hal ini tak lepas dari pelongaran peraturan, mulai diizinkannya perusahaan asuransi Tiongkok untuk berinvestasi hingga 30 persen dari total aset properti di dalam negeri dan 15 persen di luar negeri. Perubahan ini kemudian menjadi katalis untuk gelombang investasi baru secara global.

“Selain perusahaan asuransi, kelompok kunci lainnya yang semakin agresif berinvestasi di manacanegara adalah pengembang, investor individu, dan kalangan ultrakaya,” ujar Head of Research Knight Frank Asia Pasifik, Nicholas Holt, seperti dikutip South China Morning Post.

Holt menambahkan, kalangan ultrakaya atau biasa disebut ultra high net worth individual (UHNWI) dengan aset 30 juta dollar AS, termasuk rumah, memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan investasi dan koleksi harta benda. Alhasil, dana mereka tidak hanya dibenamkan untuk properti residensial, melainkan juga properti komersial.

Sementara pengembang Asia, semakin aktif bergerilya di pasar asing dengan tujuan membangun citra dan merek sebagai salah satu kunci kesuksesan. Singapura dan Tiongkok, tercatat paling aktif di pasar barat. Sebut saja GIC, Gingko Tree, dan China Investment Corp.

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me