Apartemen Kosong di Singapura Meningkat karena Kredit Macet

Big Banner

KOMPAS.com – Jumlah apartemen kosong di Singapura terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, menurut riset Savills Plc, pada akhir 2015 nanti akan menyentuh angka 10 persen. Kondisi ini jauh lebih buruk dibanding pada tahun 1998.

Saat Asia dalam keadaan krisis multidimensi, ketika harga properti Singapura anjlok 34 persen, tingkat kekosongan hanya berada pada level 9,7 persen.

Direktur Savills Plc, Alan Cheong, mengatakan, hal ini terkait laju pertumbuhan pasokan jauh lebih banyak ketimbang permintaan. “Pasokan baru datang lebih cepat daripada penyewa,” ujar Cheong.

Meski untuk saat ini hanya sebagian kecil pemilik apartemen yang menghadapi kesulitan membayar kredit cicilannya, namun potensi gagal bayar juga punya kemungkinan meningkat.

Menurut laporan Otoritas Moneter Singapura yang dipublikasikan pada bulan Desember, kurang dari 0.5 persen keseluruhan kredit dalam kondisi gagal bayar. Mereka adalah para penunggak dengan pinjaman yang melebihi 30 hari waktu jatuh tempo.

Pemilik tanah dengan berbagai properti merupakan yang paling terdampak akibat melemahnya pasar sewa ini. Dengan harga jual kembali yang ikut jatuh, mereka sering tidak dapat menutupi harga yang mereka bayar untuk properti non-sewa.

Langkah pendinginan

“Langkah pendinginan telah memengaruhi kemampuan pemilik rumah untuk menjual,” ujar Direktur dan Kepala Pelelangan Knight Frank Singapore, Sharon Lee.

Dia menambahkan, pasokan besar hunian yang tersedia untuk disewakan juga menyebabkan harga sewa menurun dan ini dapat memengaruhi kemampuan pembeli untuk membiayai atau membayar pinjaman mereka.

Harga hunian di Singapura diketahui merosot empat persen pada 2014. Ini merupakan penurunan tahunan terbesar sejak 2008 sebagai dampak pengetatan kredit. pada 2013 lalu, pemerintah Singapura menerapkan pembatasan kredit 60 persen dari pendapatan peminjam.

Alhasil, terjadi penurunan besar-besaran pada tingkat penjualan. City Development Ltd., pengembang terbesar kedua Singapura, mencatat penurunan harga saham 1,3 persen menjadi 9.92 dollar Singapura. Pencapaian tersebut merupakan level terendah selama hampir satu bulan.

Sedangkan CapitaLand Ltd (CAPL), pengembang terbesar negara tersebut turun 0.3 persen ke titik 3,25 dollar Singapura pada pukul 12:09.

“Sementara itu, kebijakan yang lebih ketat dalam pemberian izin tinggal kepada ekspatriat telah menahan permintaan untuk penyewaan rumah. Kebijakan ini menghambat tersewanya pasokan baru yang justru sedang melimpah,” ujar Direktur Riset Nasional JLL.

Jumlah izin ekspatriat yang dikeluarkan selama semester I 2014 hanya meningkat 0,9 persen menjadi 176.600.

Sementara menurut data Urban Redevelopment Authority, lebih dari 20 ribu apartemen pribadi memasuki pasar hingga 2016. Sedangkan tahun 2014 terdapat 17.911 unit.