Mahasiswa Lebih Suka Tinggal di Rumah Kos ketimbang Apartemen

Big Banner

JAKARTA, KOMPAS.com – Apartemen yang diperuntukan khusus bagi mahasiswa kian menjamur di lokasi yang dekat dengan kampus. Seperti terjadi di Depok, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Malang.

Meski begitu, banyak mahasiswa yang ternyata masih enggan untuk tinggal di apartemen dan lebih memilih menghuni rumah kos biasa.

Menurut mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Hashifah Thalita, tinggal di rumah kos lebih nyaman bila dibandingkan dengan apartemen. Selain itu, menurutnya, lebih mudah bergaul saat tinggal di rumah kos.

“Kalau aku sih lebih senang tinggal di kosan karena bisa bareng teman-teman. Tinggal di apartemen menurutku cenderung individualis,” ujar Hashifah kepada Kompas.com, Senin (19/1/2015).

Mahasiswa yang sering beradu peran dalam film televisi (FTV) ini juga mengatakan bahwa tinggal di apartemen sering kali disulitkan oleh birokrasi pihak manajemen dari apartemen. Oleh karena itu, dia lebih memilih untuk tinggal di rumah kos yang lebih mudah dalam urusan sehari-hari.

Demikian halnya dengan Ryan Dwi Destiyadi. Dia lebih memilih menghuni rumah kos karena biayanya yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan apartemen.

“Ya kalau di kosan, harganya beragam juga jadi bisa pilih yang sesuai kantong. Terus kosan bisa pilih sesuai selera dan gak ada biaya tambahan lagi. Jadi gak perlu repot urus ini-itu lagi,” ujar Ryan, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Sebaliknya, menurut salah satu mahasiswa yang lebih memilih tinggal di apartemen, Yesaya Ferdinand, tinggal di apartemen justru karena privasi lebih terjaga. Selain itu, fasilitasnya juga lebih lengkap. Oleh karena itu, dia memutuskan tinggal di apartemen.

“Kalau yang aku rasain enaknya tinggal di apartemen tuh karena fasilitasnya lengkap, ada kolam renang, minimarket, gym, laundry, dan security. Di sini juga bebas mau pulang jam berapa pun. Kalau di kosan kan kadang suka ada dibatasi jam malam,” papar Yesaya.

Yesaya tak menampik bila terkadang birokrasi manajemen apartemen seringkali menyulitkan.

“Ya paling banyak birokrasinya, rumit. Misal mau renovasi unit apartemen atau pasang AC harus izin dulu. Mau pasang tv kabel juga harus izin. Mau ambil paket titipan juga harus lewat manajemennya dulu. Biaya perawatan apartemen (service charge) juga mahal,” tambahnya.

Dari sepuluh mahasiswa yang diwawancarai Kompas.com, hanya tiga orang yang memilih dan memutuskan tinggal di apartemen. Sedangkan sisanya merasa lebih nyaman berada di rumah kos yang dekat dengan kampus.

Selain itu, mahasiswa penghuni apartemen memiliki uang bulanan lebih besar yakni mulai Rp 2 juta hingga Rp 4 juta. Sedangkan mahasiswa yang menghuni rumah kos punya uang jajan sekitar Rp 500.000 sampai Rp 3 juta per bulan.